Fenil propanoid
Fenil propanoid mewakili kelompok besar produk alamiah yang
diturunkan dari asam amino fenilalanin dan tirosin atau dalam beberapa kasus,
di tengah jalur biosintesisnya melalui biosintesis asam sikimat. Seperti yang
terlihat dari namanya, kebanyakan senyawa yang terkandung dalam strurkturnya
adalah cincin fenil yang terletak dalam tiga sisi rantai karbon propana. Karena
kebanyakan fenil propanoid di alam merupakan fenolik dengan satu atau lebih
kelompok hidroksil dalam cincin aromatis, maka sering disebut sebagai tumbuhan
fenolik. Beberapa senyawa dianggap sebagai penyingkatan fenil propanoid baik
tanpa rantai samping seperti katekol atau dengan cincin samping dengan satu
atom karbon seperti asam gallat, asam benzoat, sacicin, metal salisilat, dan
vanillin, atau dua atom karbon seperti 2-fenil etanol. Dalam beberapa kasus
rantai sisi dari dua fenil propanoid saling berinteraksi membentuk turunan
bisfenil propanoid yang disebut lignan atau neolignan. Dengan flavonoid satu
cincin aromatis dan rantai smping C3 nya
mempunyai asal usul fenil propanoid dari p-kumarol KoA yang diturunkan dari
fenilalanin, dan cincin aromtis lain dalam molekul adalah sebagai hasil dari
kondensasi dengan tiga molekul malonil KoA melalui biosintesis poliketida.
Fenil propanoid juga
bertindak sebagai unit pembangun dalam pembentukan polimer dengan berat molekul
besar dalam tumbuhan. Dua jenis utama fenil propanoid adalah lignin dan tannin. Lignin dipisahkan dalam lapisan sekunder dinding sel dalam
hubungan dengan matrik selulosa dimana kelompok hidroksil fenolik lignin diikat
hydrogen atau secara kovalen terhubung dengan hemi selulosa. Lignin memberikan
sumbangan pada penguatan dinding sel, dan kemampuan untuk mensintesisnya
diperkirakan mempunyai faktor penentu dalam evolusi adaptasi tumbuhan pada
habitat terestial karena hanya dengan dinding sel yang terlignifikasi dapat
dimungkinkan untuk membentuk cabang yang keras pada tanaman berkayu dan
pepohonan. Tanin tumbuhan adalah suatu macam kelompok dari senyawa fenolik yang
berhubungan secara primer dalam kemampuan mereka untuk berhubungan secara
kompleks dengan protein. Mereka biasanya dibagi ke dalam dua kelompok, tannin
terkondensasi, biasanya disebut sebagai proantosianidin dan tannin yang dapat
dihidrolisis.
1.
CIRI UMUM DAN TATA NAMA SENYAWA
FENIL PROPANOID
Fenil propanoid merupakan senyawa fenol alam yang mempunyai
cincin aromatik dengan rantai samping terdiri dari 3 atom karbon. Golongan
fenil propanoid yang paling tersebar luas adalah asam hidroksi sinamat, yaitu
suatu senyawa yang merupakan bangunan dasar lignin. Senyawa fenil propanoid
yang berasal dari turunan sinamat berwujud kristal putih dan sedikit larut
dalam air. Empat macam asam hidroksi sinamat banyak terdapat dalam tumbuhan.
Keempat senyawa tersebut yaitu asam ferulat, sinapat, kafeat dan p-kumarat.
Senyawa fenil propanoid merupakan salah satu kelompok senyawa fenol utama yang
berasal dari jalur shikimat. Senyawa-senyawa fenol ini mempunyai kerangka dasar
karbon yang terdiri dari cincin benzena (C6) yang terikat
pada ujung rantai karbon propana (C3).
Tidak ada tata nama yang spesifik untuk senyawa turunan
fenil propanoid karena penomorannya tidak selalu dari rantai alifatiknya, yakni
propane tetapi dapat juga berdasarkan kerangka karboaromatiknya. Penomorannya
dimulai berdasarkan gugus fungsi yang mengikuti.
Struktur
dasar fenil propanoid
1. KLASIFIKASI
FENIL PROPANOID
Beberapa
klasifikasi jenis senyawa yang termasuk fenil propanoid yaitu:
1. Turunan
sinamat
Asam sinamat memiliki rumus kimia C6H5CHCHCOOH atau C9H8O2, berwujud kristal putih, sedikit larut dalam air,
dan mempunyai titik leleh 133°C serta titik didih 300°C. Asam sinamat termasuk
senyawa fenol yang dihasilkan dari lintasan asam sikimat dan reaksi berikutnya.
Bahan dasarnya adalah fenilalanin dan tirosin sama seperti asam kafeat, asam
p-kumarat, dan asam ferulat. Keempat senyawa tersebut penting bukan karena
terdapat melimpah dalam bentuk tak terikat (bebas), melainkan karena mereka
diubah menjadi beberapa turunan di samping protein. Turunannya termasuk
fitoaleksin, kumarin, lignin, dan berbagai flavonoid seperti antosianin.
Diklasifikasi sebagai asam karboksilat tak jenuh, ia terjadi secara alami pada
sejumlah tanaman. Senyawa ini secara bebas larut dalam pelarut-pelarut
organik.Ia berada baik sebagai isomer cis maupun trans, meskipun kemudian lebih
umum. Asam sinamat, Turunannya: Asam p-kumarat, Asam
kafeat
Asam sinapat
2.
Turunan kumarin
Kumarin
dan turunannya adalah senyawa yang sangat reaktif.
Keberadaan gugus metil di posisi C4 atau C6 membuat inti kumarin lebih reaktif, dan dapat
mengakibatkan inti kumarin menjalani reaksi halogenasi serta kondensasi dengan
aldehida. C6 pada cincin aromatik dapat mengalami serangan
elektrofilik, misalnya sulfonasi atau reaksi asilasi Friedel-Craft. Sebuah
substituen metil pada inti kumarin bereaksi secara berbeda, tergantung pada
posisi serangan. Sebagai contoh, sebuah gugus metil yang terikat pada C6 atau C4 lebih
reaktif dari gugus metil di posisi C3 atau C5. Adapun struktur umum dari kumarin yaitu:
Turunannya yaitu: Umbeliferon dan Eskuletin
3.
Turunan alilfenol
Senyawa-senyawa alilfenol dan
propenilfenol adalah dua jenis senyawa fenilpropanoida yang berkaitan satu sama
lainnya. Senyawa-senyawa ini umumnya ditemukan bersama-sama dalam minyak atsiri
dari tumbuhan umbeliferae atau tumbuhan lain yang digunakan sebagai
rempah-rempah. turunannya: Cavicol, Eugenol, Safrol dan Miristisin
4.
Turunan propenil Fenol
Turunan propenil Fenol yaitu: Anatol, Isoeugenol, Isoelemesin dan
Isomiristisin
1.
REAKSI-REAKSI PADA SENYAWA FENIL
PROPANOID
Reaksi
yang terjadi pada fenil propanoid yaitu:
a.
Reaksi esterifikasi
Reaksi esterifikasi adalah reaksi
perubahan dari suatu asam karboksilat atau turunan karboksilat dan alcohol
menjadi suatu ester.
b.
Reaksi pada ikatan rangkap alifatik
asam karboksilatnya
Asam karbiksilat yang mengandung
gugus karbonil atau ikatan rangkap karbon-karbon jika direaksikan dengan
hydrogen disertai pemberian katalis akan mengalami reduksi selektif, yaitu yang
mengalami reduksi hanyalah gugus karbonil dan/atau ikatan rangkap karbon-karbon
saja.
c.
Reduksi pada posisi gugus karboksil
dengan reduktor LiAlH
LiAlH mereduksi asam karboksilat
menjadi alkohol primer.
d.
Reaksi-reaksi pada kumarin
Keterangan:
(1). Reaksi reduksi kumarin dengan
menggunakan LiAlH4 menghasilkan suatu alcohol
primer.
(2). Reaksi adisi bromine
menggunakan pelarut karbon tetraklorida.
(3). Reaksi Diels-Alder yaitu reaksi
antara senyawa karbonil tidak jenuh dengan 2,3-dimetil-1,3-butadiena yang
merupakan diena terkonjugasi.
e. Reaksi Hidrolisis
·
Bila eter didihkan dalam air yang
mengandung asam terjadi hidrolisis yang menghasilkan alkohol.
·
Hidrolisis ester dalam suasana asam
menghasilkan asam karboksilat dan alkohol sedangkan dalam suasana basa
menghasilkan garam karboksilat dan alkohol.
2. BIOSINTESIS SENYAWA FENIL PROPANOID
Perintis
senyawa fenilpropanoid awal adalah asam sinamat dan asam p-hidroksinamat, yang
juga dikenal dengan nama asam p-kumarat. Dalam tumbuhan, senyawa ini dibuat
dari asam aromatis amino fenilalanin dan tirosin, secara bergantian, dan
tersintesis melalui jalur asam sikimat.
Biosintesa
senyawa fenilpropanoida yang dari jalur shikimat pertama kali ditemukan dalam
mikroorganisme seperti bakteri, kapang dan ragi. Sedangkan asam shikimat
pertama kali ditemukan pada tahun 1885 dari tumbuhan lillicium religiosum dan
kemudian ditemukan dalam banyak tumbuhan. Pokok reaksi biosintesa dari jalur
shikimat adalah sebagai berikut: Pembentukan asam shikimat diawali dengan
kondensasi aldol antara eritrosa dan asam fosfoenol piruvat. Pada kondensasi
ini, gugus metilen (C=CH2) dari asam fosfoenolpiruvat berlaku sebagai nukleofil
dan mengadisi gugus karbonil C=O eritrosa, menghasilkan gula dengan 7 unit atom
karbon. Selanjutnya reaksi yang analog (intramolekuler) menghasilkan asam 5
dehidrokuinat yang mempunyai lingkar sikloheksana, yang kemudian diubah menjadi
asam shikimat.
Asam
sikimat melalui serangkaian reaksi terfosforilasi, menghasilkan asam korismat
yang merupakan titik percabangan yang penting dalam biosintesis. Satu cabang
menghasilkan asam anthranilat dan kemudian menjadi triptofan. Sedangkan cabang
yang lain menimbulkan asam prefenat, senyawa non aromatis terakhir dalam
rangkaian tersebut. Asam prefenat terbentuk oleh adisi asam fosfoenolpiruvat
terhadap asam shikimat. Asam prevenat dapat diaromatisasi dengan dua cara.
Pertama diproses dengan dehidrasi dan dekarboksilasi simultan sehingga
menghasilkan asam fenilpiruvat, yang bisa menghasilkan fenilalanin.Yang kedua
muncul dengan dehidrogenasi dan dekarboksilasi menghasilkan asam p-hidroski
fenilpiruvat, asal mula tirosin.
1.
Jalur biosintesa shikimat
2.
Jalur biosintesa kumarin
Kumarin adalah senyawa fenol yang
pada umumnya berasal dari tumbuhan tinggi dan jarang sekali ditemukan pada
mikroorganisme. Penelitian mengenai biosintesa kumarin pada beberapa jenis
tumbuhan ternyata mendukung biosintesa ini. Walaupun demikian, mekanisme dari
sebagian besar tahap-tahap reaksi tersebut masih belum jelas. Misalnya reaksi
isomerisasi cis-trans dari asam orto hidroksikumarat mungkin berlangsung dengan
katalis enzim atau melalui proses fotokimia atau suatu proses
reduksi-dehidrogenasi yang beruntun. Tahap-tahap reaksi biosintesa kumarin yang
dimulai dari asam sinamat hingga terbentuknya kumarin adalah sebagai berikut:
3.
Jalur biosintesa alilfenol dan
propenil fenol
Senyawa-senyawa alilfenol dan
propenil fenol adalah dua jenis senyawa fenil propanoid yang berkaitan satu
sama lainnya. Senyawa-senyawa ini umumnya ditemukan bersama-sama dalam minyak
atsiri dari tumbuhan umbeliferae atau tumbuhan lain yang digunakan sebagai
rempah-rempah. Misalnya eugenol adalah komponen utama dari minyak cengkeh dan
miristin terdapat dalam minyak pala. Semua senyawa ini mempunyai gugus
hidroksil atau gugus ester pada C4, kadang-kadang
diikuti oleh gugus metoksil atau metilendioksida yang lain.
Hipotesis reaksi biosintesa dari
turunan alilfenol dan propenil fenol adalah sebagai berikut: Pembentukan
turunan alilfenol dan propenil fenol pada prinsipnya adalah suatu reaksi
substitusi nukleofilik, dimana ion hidrida berlaku sebagai nukleofil. Hipotesis
ini telah didukung oleh percobaan mengenai biosintesa anetol dalam
tumbuhan pimpinella anisum.
3. ISOLASI FENIL PROPANOID DALAM SUATU SPESIES
Isolasi kumarin dari biji pinang
Pinang yang digunakan buahnya sebagai ramuan pemakan sirih
dikenal dengan nama latin Areca catechu L. Buah pinang mudah
dikunyah dan airnya ditelan untuk mengobati darah dalam air kencing. Jus pinang
muda digunakan sebagai obat luar untuk rabun bila diteteskan pada kornea,
ditelan untuk demam, histeria, dan disentri. Biji pinang muda bila dibuat jus
dengan telur itik dan susu dapat digunakan untuk peningkatan stamina lelaki.
Abu pinang digunakan untuk mencuci gigi, tetapi jika terlalu banyak akan
merusak gigi. Jus pucuk pinang dan Euphorbia linta digunakan
tiga hari setelah bersalin. Akar pinang juga digunakan untuk memperbanyak
kencing dan mengobati sakit perut. Campuran daunnya digunakan untuk memandikan
anak-anak yang sering mengalami sakit perut. Serbuk pinang bisa membuang cacing
gelang. Pada penelitian ini akan dilaporkan kandungan kumarin dari biji pinang
sirih yang muda dengan cara maserasi dan karakterisasi hasil dengan cara kimia,
spektroskopi dan kromatografi. Berikut tahapan isolasinya:
·
Persiapan alat dan bahan
Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat destilasi,
rotary evaporator Heidolph WB 2000, Spektrometer Ultraviolet Secoman S1000 PC,
Spektrometer IR (Perkin Elmer FTIR 1600 series), Spektrometer 13C-NMR Bruker WP pada 100 MHz, Spektrometer 1H-NMR Bruker WP pada 500 MHz, Spektrometer Massa
(Micromas VG 70-250S), Elemental analysis apparatus, Fisher melting point
apparatus, lampu UV λ = 254 dan 356 nm, corong Buchner, kolom kromatografi
dengan diameter 5,0 dengan panjang 48 cm, penangas listrik, oven, pipa kapiler,
kertas saring, plat KLT, alumunium foil, serta perlatan gelas yang umum
digunakan di laboratorium.
Sampel
yang berupa biji pinang sirih yang masih muda (Areca catechu L) diambil di
Tanah Sirah Kalumbuk Kota Padang, dan diidentifikasi di Herbarium Universitas
Andalas Padang (ANDA) oleh Rusdi Tamin.
·
Ektraksi dan fraksinasi
Sampel kering biji pinang muda Areca catechu L.
yang dimaserasi dengan metanol. Dari 2,95 kg sampel kering biji pinang
muda Areca catechu L. yang dimaserasi dengan metanol
didapatkan ekstrak pekat sebanyak 511,36 g. Selanjutnya ekstrak pekat metanol
tadi dilarutkan dalam metanol : air (1 : 1) kemudian difraksinasi dengan
pelarut etilasetat. Fraksi etilasetat dipekatkan dengan rotary evaporator dan
didapatkan ekstrak pekat fraksi etil asetat sebanyak 75,75 g. Kemudian fraksi
etilasetat dikromatografi kolom sehingga didapatkan satu noda tunggal. Noda
tunggal dimonitor dengan kromatografi lapisan tipis dengan menggunakan pelarut
n-heksan : aseton (4 : 6) dan dilihat di bawah lampu UV.
·
Pemurnian dan rekristalisasi
Pemurnian dilakukan dengan menggunakan pelarut yang berbeda
kelarutannya, yaitu EtOAc, aseton dan MeOH. Ketiga fraksi ini dimonitor dengan
KLT menggunakan pelarut n-heksan : aseton (4 : 6). Hasil KLT dari fraksi aseton
memperlihatkan noda tunggal di bawah lampu UV sebagai penampak noda. Kemudian dilakukan
rekristalisasi terhadap fraksi aseton dengan menggunakan pelarut MeOH dan
Aseton, sehingga didapatkan kristal kumarin yang berwarna putih. Kristal
tersebut memiliki titik leleh 184 – 185°C dan Rf 0,60 dengan pelarut n-heksan :
aseton (4 : 6). Kristal murni yang didapat dilakukan analisa unsur, penarikan
spektrum ultraviolet, spektrum inframerah, spektrum massa, spektrum NMR
baik 1H dan 13C. Karena
rekristalisasi terhadap fraksi aseton menggunakan pelarut MeOH dan Aseton,
sehingga didapatkan kristal kumarin yang berwarna putih.
·
Karakterisasi
Selanjutnya
karakterisasi senyawa golongan kumarin ini dilakukan dengan menggunakan
spektrometer UV-Vis Secomam S.1000. Spektrum UV yang dihasilkan oleh senyawa
kumarin hasil isolasi dengan pelarut MeOH memberikan 3 pita serapan maksimum
208,6 nm; 219,6 nm; dan 323,6 nm. Berdasarkan pengukuran serapan UV tersebut
dapat disarankan bahwa senyawa hasil isolasi termasuk dalam senyawa golongan
kumarin.
4. MANFAAT SENYAWA FENIL PROPANOID
Adapun
beberapa manfaat dari senyawa fenil propanoid yaitu sebagai berikut:
1.
Tiga contoh senyawa fenil propanoid
yaitu sinamaldehida, eugenol dan apiel berperan penting dalam memberi ciri
bau-rasa dan bau khas berbagai jamu dan rempah-rempah yang berharga.
2.
Sinamaldehida yang terkandung pada
kayu manis bermanfaat untuk menurunkan resiko stroke dan aterosklerosis.
3.
Asam sinamat bisa berfungsi untuk
melindungi kulit dari sinar matahari karena senyawa ini dapat berpotensi
sebagai bahan kosmetik.
4.
Lignan (gabungan antara dua fenil
propanoid melalui rantai samping alifatiknya) pada manusia digunakan secara
niaga sebagai antioksidan dalam makanan dengan berhasil baik, walaupun
terbatas. Sedangkan untuk tumbuhan lignan memberikan sumbangan pada penguatan
dinding sel.
5.
Dalam beberapa jenis tumbuhan paku
yang mengandung senyawa fenil propanoid bisa digunakan sebagai obat kanker.
6.
Tanin (salah satu jenis senyawa
fenil propanoid yang terkandung dalam tumbuhan) bagi manusia berfungsi untuk
menghambat pertumbuhan tumor, sedangkan fungsinya bagi tumbuhan itu sendiri
ialah sebagai pertahanan yaitu untuk mengusir hewan pemangsa tumbuhan.
7.
Eugenol dan senyawa turunannya
memiliki berbagai manfaat dalam bidang industri, seperti industri farmasi,
kosmetik, makanan, minuman, rokok, pestisida nabati, perikanan, pertambangan,
kemasan aktif dan industri kimia lainnya.
8.
Kumarin bermanfaat sebagai
antioksidan alami.
Fenil propanoid merupakan turunan dari fenil propana yang
mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari cincin benzena (C6) yang terikat pada ujung rantai karbon propane (C3). Berdasarkan strukturnya, fenil propanoid
diklasifikasikan menjadi turunan asam sinamat, trunan kumarin, turunan
alilfenol, dan turunan propenil fenol. Senyawa turunan fenil propanoid tidak
memiliki tata nama yang spesifik karena penomorannya tidak selalu dari rantai
alifatiknya, yakni propana tetapi bisa juga berdasarkan kerangka
karboaromatiknya. Penomorannya dimulai sesuai dengan gugus fungsi yang
mengikuti. Biosintesa senyawa fenilpropanoida yang dari jalur shikimat pertama
kali ditemukan dalam mikroorganisme seperti bakteri, kapang dan ragi. Sedangkan
asam shikimat pertama kali ditemukan pada tahun 1885 dari tumbuhan lillicium
religiosum dan kemudian ditemukan dalam banyak tumbuhan. Banyak kemungkinan
reaksi yang terjadi pada senyawa fenil propanoid, seperti reaksi esterifikasi,
reaksi reduksi, reaksi Diels Alder, reaksi hidrolisis, dan lain-lain. Hal ini
karena gugus fungsi yang terikat pada fenil propanoid bermacam-macam. Sumber
senyawa fenil propanoid di alam cukup beragam, yakni bisa ditemukan dalam
cengkeh, daun salam, pala, kencur, padi, gandum, kopi, apel, nanas jeruk, dan
lain-lain.
Permasalahan:
1. Fenil propanoid juga bertindak
sebagai unit pembangun dalam pembentukan polimer dengan berat molekul besar
dalam tumbuhan. Dua jenis utama fenil propanoid adalah lignin dan tannin,
apakah Dua jenis utama fenil propanoid lignin dan tannin hanya terdapat dalam
tumbuhan?
2. Kumarin dan turunannya adalah
senyawa yang sangat reaktif, nah apa yang menyebabkan kumarin lebih reaktif
dibandinkan dengan sinamat, alilfenol dan propenil Fenol?
Saya akan menjawab permasalahan 2. Kumarin dan turunannya adalah senyawa yang sangat reaktif. Keberadaan gugus metil di posisi C4 atau C6 membuat inti kumarin lebih reaktif, dan dapat mengakibatkan inti kumarin menjalani reaksi halogenasi serta kondensasi dengan aldehida. C6 pada cincin aromatik dapat mengalami serangan elektrofilik, misalnya sulfonasi atau reaksi asilasi Friedel-Craft. Sebuah substituen metil pada inti kumarin bereaksi secara berbeda, tergantung pada posisi serangan. Sebagai contoh, sebuah gugus metil yang terikat pada C6 atau C4 lebih reaktif dari gugus metil di posisi C3 atau C5.
BalasHapusBaiklah saya mencoba menjawab no 1
BalasHapusLignin dipisahkan dalam lapisan sekunder dinding sel dalam hubungan dengan matrik selulosa dimana kelompok hidroksil fenolik lignin diikat hydrogen atau secara kovalen terhubung dengan hemi selulosa. Lignin memberikan sumbangan pada penguatan dinding sel, dan kemampuan untuk mensintesisnya diperkirakan mempunyai faktor penentu dalam evolusi adaptasi tumbuhan pada habitat terestial karena hanya dengan dinding sel yang terlignifikasi dapat dimungkinkan untuk membentuk cabang yang keras pada tanaman berkayu dan pepohonan. Tanin tumbuhan adalah suatu macam kelompok dari senyawa fenolik yang berhubungan secara primer dalam kemampuan mereka untuk berhubungan secara kompleks dengan protein. Mereka biasanya dibagi ke dalam dua kelompok, tannin terkondensasi, biasanya disebut sebagai proantosianidin dan tannin yang dapat dihidrolisis.
Saya akan menjawab permasalahan yang pertama. Asam sinamat termasuk senyawa fenol yang dihasilkan dari lintasan asam sikimat dan reaksi berikutnya. Bahan dasarnya adalah fenilalanin dan tirosin sama seperti asam kafeat, asam p-kumarat, dan asam ferulat. Keempat senyawa tersebut penting bukan karena terdapat melimpah dalam bentuk tak terikat (bebas), melainkan karena mereka diubah menjadi beberapa turunan di samping protein. Turunannya termasuk fitoaleksin, kumarin, lignin, dan berbagai flavonoid seperti antosianin. Diklasifikasi sebagai asam karboksilat tak jenuh, ia terjadi secara alami pada sejumlah tanaman. Senyawa ini secara bebas larut dalam pelarut-pelarut organik.Ia berada baik sebagai isomer cis maupun trans, meskipun kemudian lebih umum.
BalasHapusTurunan kumarin
Kumarin dan turunannya adalah senyawa yang sangat reaktif. Keberadaan gugus metil di posisi C4 atau C6 membuat inti kumarin lebih reaktif, dan dapat mengakibatkan inti kumarin menjalani reaksi halogenasi serta kondensasi dengan aldehida. C6 pada cincin aromatik dapat mengalami serangan elektrofilik, misalnya sulfonasi atau reaksi asilasi Friedel-Craft. Sebuah substituen metil pada inti kumarin bereaksi secara berbeda, tergantung pada posisi serangan. Sebagai contoh, sebuah gugus metil yang terikat pada C6 atau C4 lebih reaktif dari gugus metil di posisi C3 atau C5.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yg kedua:
BalasHapusPerubahan terhadap struktur dasar kumarin diketahui dapat memberikan pengaruh terhadap aktivitas biologinya. Sebagai contoh, kumarin dengan gugus hidroksi dapat digunakan sebagai antiimflamantory. Sintesis kumarin dengan menambahkan berbagai gugus pharmacophoric pada posisi C-3, C-4 dan C-7 secara intensif aktif sebagai anti-mikroba, anti-HIV, anti-kanker, anti-oksidan, dan anti-koagulan. Kumarin-3-sulfonamides dan carboxamides telah dilaporkan memiliki efek toksisitas terhadap sel kanker pada mamalia. Substitusi pada posisi C-4 dengan gugus aryloxymethyl, arylaminomethyl, dan dichloroacetamidomethyl, menunjukkan potensi sebagai anti-mikroba dan anti-inflammantory (Dighe et al, 2010). Maka penelitian mengenai sintesis senyawa turunan kumarin menjadi sangat penting untuk dikembangkan lebih lanjut pada dunia medisinal.
Dari nomor 2.
BalasHapusKumarin dan turunannya adalah senyawa yang sangat reaktif. Keberadaan gugus metil di posisi C4 atau C6 membuat inti kumarin lebih reaktif, dan dapat mengakibatkan inti kumarin menjalani reaksi halogenasi serta kondensasi dengan aldehida. C6 pada cincin aromatik dapat mengalami serangan elektrofilik.