flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat
pada tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada tumbuhan
tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan
O-glikosida, isoflavon C- dan O-glikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon
dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin,
auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol,
flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya
Menurut Markham (1988), flovonoid tersusun dari dua cincin aromatis yang dapat
atau tidak dapat membentuk cincin ketiga dengan susunan C6-C3-C6 .
Kerangka flavonoid
Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoid yaitu:
1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana
2. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana
3. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana
Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang
berasal dari kata flavon, yaitu nama salah satu jenis flavonoida yang terbesar
jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka
2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat
pada B dari cincin 1,3-diarilpropanan dihubungkan oleh jembatan oksigen
sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru .
Kelas-kelas yang berlainan dalam golongan ini dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan. Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Golongan terbesar flavonoid berciri mempunyai piran yang menghubungkan rantai tiga-karbon dengan salah satu dari cincin benzene. Sistem penomoran untuk turunan flavonoid diberikan dibawah:
Kelas-kelas yang berlainan dalam golongan ini dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan. Flavonoid sering terdapat sebagai glikosida. Golongan terbesar flavonoid berciri mempunyai piran yang menghubungkan rantai tiga-karbon dengan salah satu dari cincin benzene. Sistem penomoran untuk turunan flavonoid diberikan dibawah:
Di antara flavonoid khas yang mempunyai kerangka seperti diatas
berbagai jenis dibedakan tahanan oksidasi dan keragaman pada rantai C3.
Flavonoid mencakup banyak pigmen yang umum dan terdapat pada
seluruh dunia tumbuhan mulai dari fungsi sampai angiospermae.
a. Katekin dan proantosianidin
Katekin dan proantosianidin adalah dua golongan senyawa yang
mempunyai banyak kesamaan. Semuanya senyawa terwarna, terdapat pada seluruh
dunia tumbuhan berkayu.kita hanya mengenal tiga jenis katekin, perbedaannya
hanya pada jumlah gugus hidroksil pada cincin B. Senyawa ini mempunyai dua atom
karbon kiral dan karena itu mungkin terdapat 4 isomer.
b. Flavanon dan Flavanonol
Senyawa ini terdapat hanya sedikit sekali jika dibandingkan
dengan flavonoid lain. Mereka terwarna atau hanya kuning sedikit. Karena
konsentrasinya rendah dan tidak berwarna maka sebagian besar diabaikan.
Flavanon (atau dihidroflavanon) sering terjadi sebagai aglikon (60)tetapi
beberapa glikosidanya dikenal sebagai, misalnya, hesperidin dan naringin dari
kulit buah jeruk. Flavanonol merupakan flavonoid yang kurang dikenal, dan kita
tidak mengetahui apakah senyawa ini terdapat sebagai glikosida.
c. Flavon, flavanol, isoflavon
Flavon atau flavonol merupakan senyawa yang paling tersebar luas
dari semua semua pigmen tumbuhan kuning, meskipun warna kuning tumbuhan jagung
disebabkan oleh karatenoid. Isoflavon tidak begitu menonjol, tetapi senyawa ini
penting sebagai fitoaleksin. Senyawa yang lebih langka lagi ialah
homoisoflavon. Senyawa ini biasanya mudah larut dalam air panas dan alkohol
meskipun beberapa flvonoid yang sangat termitalasi tidak larut dalam air.
d. Auron
Auron atau system cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :
Auron berupa pigmen kuning emas terdapat dalam bunga tertentu
dan bryofita. Dikenal hanya lima aglikon, tetapi pola hidroksilasi senyawa ini
umumnya serupa dengan pola pada flavonoid lain begitu pula bentuk yang dijumpai
ialah bentuk glikosida dan eter metil. Dalam larutan basa senyawa ini menjadi
merah ros. Beberapa auron, struktur dan tumbuhan sumber terdapat dalam contoh
dibawah ini.

2. Isolasi
Banyak senyawa dari golongan ini yang mudah larut dalam air, terutama bentuk glikosidanya, dan oleh karena itu senyawa ini berada dalam ekstrak air tumbuhan, bahkan senyawa yang hanya sedikit larut dalam air kepolarannya memadai untuk diekstraksi dengan baik memakai methanol, etanol atau aseton dan methanol 80% merupakan pelarut yang sering dipakai untuk ektraksi flavonoid. Pengekstraksian kembali larutan dalam air dengan pelarut organik yang tidak bercampur dengan air tetapi agak polar sering kali bermanfaat untuk memisahkan golongan ini dari senyawa yang lebih polar seperti karbohidrat.
Etil asetat merupakan pelarut yang baik untuk menangani katekin dan proantosianidin.
Benzena dapat dipakai untuk benzofenon dan stilbutena. Amil alkohol dipakai untuk antosianin.
Butyl alkohol sekunder adalah alkohol yang paling polar yang bercampur dengan air secara tidak sempurna, dan jika ekstrak air dijenuhkan dengan natrium klorida atau magnesium sulfat, pelarut ini sangat baik untuk untuk mengekstraksi senyawa golongan ini.
Dari segi analisis masa lampau, berbagai pereaksi pengendap telah digunakan untuk senyawa ini. Timbel asetat netral atatu basa terutama dianjurkan. Flavonoid dapat dibebaskan dari endapan timbel dengan menambahkan asam sulfat encer atau hydrogen sulfide, timbel mengendap sebagai timbel sulfat atau timbel sulfide. Pereaksi lainnya adalah asam pikrat, kalium asetat, barium hidroksida, piridina, iterbium asetat dan sebagainya.
Kromatografi partisi kolom telah digunakan untuk pemisahan senyawa ini, misalnya kolom magnesol atau asam silikat dengan pengelusi etil asetat yang dijenuhkn dengan air atau eter. Alumina terutama berguna dalam pemisahan antosianin yang hanya mempunyai 1 gugus hidroksil bebas pada cincin B dari antosianin yang mengandung 1 atau lebih gugus itu.
Kolom partisi memakai serbuk selulosa digunakan untuk berbagai polifenol, termasuk antosianin. Kromatografi penukar ion berguna untuk pengikatan senyawa aromatik ke kamar berdasr-polistiserena. Beberapa peneliti menganjurkan pemakaian kolom poliamida untuk memurnikan flavonoid.
Senyawa metabolit sekunder
merupakan sumber bahan kimia yang tidak akan pernah habis, sebagai sumber
inovasi dalam penemuan dan pengembangan obat-obat baru ataupun untuk menujang
berbagai kepentingan industri. Hal ini terkait dengan keberadaannya di alam
yang tidak terbatas jumlahnya. Dari 250.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi
seperti dikemukan di atas 54 % diantaranya terdapat di hutan-hutan tropika dan
Indonesia dengan hutan tropikanya yang mengandung lebih dari 30.000 jenis
tumbuhan tingkat tinggi sangat berpotensial untuk diteliti dan dikembangkan
oleh para peneliti Indonesia.
Indonesia sebagai negara tropis memiliki beraneka ragam tumbuhan
yang dapat dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan manusia. Sejak
zaman dahulu, masyarakat Indonesia telah mengenal tanaman yang mempunyai
khasiat obat atau menyembuhkan berbagai macam penyakit. Saat ini, para peneliti
semakin berkembang untuk mengeksplorasi bahan alami yang mempunyai aktivitas
biologis yang positif bagi manusia. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah
dikembangkan, senyawa-senyawa yang memiliki potensi sebagai antioksidan umumnya
merupakan senyawa flavonoid, fenolat, dan alkaloid.
Senyawa
yang paling mudah ditemukan adalah flavonoid karena senyawa ini adalah kelompok
senyawa fenol terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan
zat warna merah, ungu, biru, dan sebagai zat berwarna kuning yang ditemukan
dalam tumbuh-tumbuhan. Perkembangan pengetahuan menunjukkan bahwa flavonoid
termasuk salah satu kelompok senyawa aromatik yang termasuk polifenol dan
mengandung antioksidan. Oleh karena jumlahnya yang melimpah di alam, manusia
lebih banyak memanfaatkan senyawa ini dibandingkan dengan senyawa lainnya
sebagai antioksidan.
Penelitian bahan alam
biasanya dimulai dari ekstraksi, isolasi dengan metode kromatografi sehingga
diperoleh senyawa murni, identifikasi unsur dari senyawa murni yang diperoleh
dengan metode spektroskopi, dilanjutkan dengan uji aktivitas biologi baik dari
senyawa murni ataupun ekstrak kasar. Setelah diketahui struktur molekulnya
biasanya dilanjutkan dengan modifikasi struktur untuk mendapatkan senyawa
dengan aktivitas dan kestabilan yang diinginka
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di
alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai
zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan
pigmen tumbuhan dengan warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada
buah, sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk
pangan dan obat dari tumbuhan seperti minyak zaitun, teh, cokelat, anggur
merah, dan obat herbal. Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P dan citrin,
dan merupakan pigmen yang diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai warna pada
bunga yang dihasilkan. Bagian tanaman yang bertugas untuk memproduksi flavonoid
adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia, bakteri tanah yang bertugas
untuk menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa,
bau, serta kualitas nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan
senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies, genus
atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah
hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri
terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia,
dormansi biji, pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada
berbagai jalur transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas
jantan.
Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang Amerika
bernama Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan ekstrak vitamin C
(asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati penderita pendarahan
kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986) menemukan
pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta
Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme
aktivitas senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi “alat komunikasi‟
(molecular messenger) dalam proses interaksi antar sel, yang selanjutnya dapat
berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau mahluk hidup yang
bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat positif
(menstimulasi).
Flavonoid
adalah sekelompok besar senyawa polifenol tanaman yang tersebar luas dalam berbagai bahan makanan dan
dalam berbagai konsentrasi. Komponen tersebut pada umumnya terdapat
dalam keadaan terikat atau terkonjugasi dengan senyawa gula. Lebih dari
4000 jenis flavonoid telah diidentifikasi dan beberapa di antaranya berperan
dalam pewarnaan bunga, buah,dan daun (de Groot & Rauen, 1998). Dalam
tumbuhan, aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam
berbagai bentuk struktur.
Ada juga senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur
biosintesa ini yaitu senyawa-senyawa flanonoida. Tidak ada benda yang
begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan
kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna kuning
atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna
yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida
memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga.
Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak
sejenis ulat tertentu.
Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenolik terbesar yang
ditemukan di alam dan berasal dari tumbuhan tingkat tinggi. Flavonoid
mempunyai kerangka dasar dengan 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6)
terikat pada satu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu
susunan (C6-C3-C6) dengan struktur
1,3-diarilpropan. Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis,
bergantung pada tingkat oksidasi rantai propan dari sistem 1,3-diarilpropan
[Achmad, 1985]. Agar mudah, cincin diberi tanda A, B, dan C,atom karbon
dinomori menurut sistem penomoran yang menggunakan angka biasa untuk cincin A
dan C, serta angka “beraksen” untuk cincin B.
Flavonoid
adalah senyawa yang tersusun dari 15 atom karbon dan terdiri dari 2 cincin
benzen yang dihubungkan oleh 3 atom karbon yang dapat membentuk cincin ketiga.
Flavonoid dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1.
Flavonoid yang
memiliki cincin ketiga berupa gugus piran. Flavonoid ini disebut flavan atau
fenilbenzopiran. Turunan flavan banyak digunakan sebagai astringen (turunan
tanin).
2.
Flavonoid yang
memiiliki cincin ketiga berupa gugus piron. Flavonoid ini disebut flavon atau
fenilbenzopiron. Turunan flavon adalah jenis flavonoid yang paling banyak
memiliki aktivitas farmakologi.
3.
Flavonoid yang
memiiliki cincin ketiga berupa gugus pirilium. Flavonoid ini disebut flavilium
atau antosian. Turunan pirilium biasa digunakan sebagai pewarna alam.
Kerangka dasar karbon pada flavonoid merupakan
kombinasi antara jalur sikhimat dan jalur asetat-malonat yang merupakan dua
jalur utama biosintesis cincin aromatik. Cincin A dari struktur flavonoid
berasal dari jalur poliketida (jalur asetat-malonat), yaitu kondensasi tiga
unit asetat atau malonat, sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai
propan berasal dari jalur fenilpropanoid (jalur sikhimat) [Achmad, 1985].
Modifikasi flavonoid lebih lanjut, dapat
mungkin terjadi pada berbagai tahap dan menghasilkan penambahan atau
pengurangan gugus hidroksil, metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid,
isoprenilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid, metilenasi gugus
orto-dihidroksil, dimerisasi (pembentukan biflavonoid), pembentukan bisulfat,
dan yang terpenting adalah glikosilasi gugus hidroksil(pembentukan flavonoid
O-glikosida) atau inti flavonoid (pembentukanflavonoid C-glikosida) (Markham,
1988).
Markham (1988) menyatakan bahwa flavonoid pertama yang
dihasilkan pada alur biosintesis flavonoid ialah khalkon, dan semua turunan
flavon diturunkan darinya melalui berbagai alur. Semua golonganflavonoid saling
berkaitan, karena berasal dari alur biosintesis yangsama. Cincin A terbentuk
karena kondensasi ekor-kepala dari tiga unit asam asetat-malonat atau berasal
dari jalur poliketida. Cincin B serta satuan tiga atom karbon dari rantai
propan yang merupakan kerangka dasar C6 – C3 berasal dari jalurasam sikimat
(Manitto, 1981).
Polifenol dan turunannya telah lama
dikenal memiliki aktivitas antibakteri, anti melanogenesis, antioksidan dan
antimutagen. Sebagai antioksidan polifenol berperan sebagai penangkap radikal
bebas penyebab peroksidasi lipid yang dapat menimbulkan kerusakan pada bahan
makanan, selain itu senyawa antioksidan berfungsi mencegah kerusakan sel dan
DNA akibat adanya senyawa radikal bebas. Senyawa flavonoid yang merupakan
salah satu golongan dari polifenol sampai saat ini belum dimanfaatkan secara
optimal dan masih digunakan secara terbatas. Hal ini dikarenakan senyawa flavonoid tidak stabil terhadap
perubahan pengaruh oksidasi, cahaya, dan perubahan kimia, sehingga apabila
teroksidasi strukturnya akan berubah dan fungsinya sebagai bahan aktif akan
menurun bahkan hilang dan kelarutannya rendah. Kestabilan dan kelarutan dapat
ditingkatkan dengan cara mengubah senyawa flavonoid menjadi bentuk glikosida
melalui reaksi kimia maupun enzimatik dengan bantuan enzim transferase. Senyawa-senyawa
flavanoid yang umumnya bersifat antioksidan dan banyak yang telah digunakan
sebagai salah satu komponen bahan baku obat-obatan. Bahkan, berdasarkan
penelitian di Jepang, ditemukan molekul isoflavon di dalam tempe. Oleh karena
molekul isoflavon bersifat antioksidan maka tempe merupakan sumber pangan yang
baik untuk menjaga kesehatan, selain kandungan gizinya tinggi.
Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang
berasal dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoid yang terbesar
jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai kerangka
2-fenilkroman, dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat
pada cincin B dari 1.3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga
membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C).
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sering sekali disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku Leguminosae.
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sering sekali disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku Leguminosae.
Pola biosintesis pertama kali disarankan oleh Birch, yaitu :
pada tahap tahap pertama biosintesa flavonoida suatu unit C6-C3 berkombinasi
dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2).kerangka C15 yang
dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada
posisi-posisi yang diperlukan. Cincin A dari struktur flavonoida berasal dari
jalur poliketida, yaitu kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat,
sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur
fenilpropanoida (jalur shikimat). Sehingga kerangka dasar karbon dari
flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintes utamadari
cincin aromatik yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. Sebagai akibat
dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim, ketiga atom karbon dari
rantai propana dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti pada ikatan
rangkap, gugus hidroksi, gugus karbonil, dan sebagainya. Sebagai besar senyawa
flavonoida alam ditemukan dalam bentuk glikosida, dimana unit flavonoid terikat
pada sutatu gula. Glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu
alkohol yang saling berikatanmelalui ikatan glikosida. Pada prinsipnya, ikatan
glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alkohol beradisi kepada gugus
karbonil dari gula sama seperti adisi alkohol kepada aldehida yang dikatalisa
oleh asam menghasilkan suatu asetal.
Pada hidrolisa oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas
komponen-komponennya menghasilkan gula dan alkohol yang sebanding dan alkohol
yang dihasilkan ini disebut aglokin. Residu gula dari glikosida flavonoida alam
adalah glukosa, ramnosa, galaktosa dan gentiobiosa sehingga glikosida tersebut
masing-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida.
Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu,
dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula.
Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organik seperti
eter, benzen, kloroform dan aseton. Antioksidan alami terdapat dalam bagian
daun, buah, akar, batang dan biji dari tumbuh-tumbuhan obat. Bagian tersebut
umumnya mengandung senyawa fenol dan polifenol.
Beberapa
contoh flavonoid:
Flavonoid (terutama glikosida) mudah mengalami degradasi
enzimatik ketika dikoleksi dalam bentuk segar. Oleh karena itu disarankan
koleksi yang dikeringkan atau dibekukan. Ekstraksi menggunakan solven yang
sesuai dengan tipe flavonoid yg dikehendaki. Polaritas menjadi pertimbangan utama.
Flavonoid kurang polar (seperti isoflavones, flavanones, flavones termetilasi,
dan flavonol) terekstraksi dengan chloroform, dichloromethane, diethyl ether,
atau ethyl acetate, sedangkan flavonoid glycosides dan aglikon yang lebih polar
terekstraksi dengan alcohols atau campuran alcohol air. Glikosida meningkatkan
kelarutan ke air dan alkohol-air.
C. Klasifikasi Senyawa
Flavonoid
Flavonoid merupakan metabolit sekunder yang paling beragam dan tersebar luas.
Sekitar 5-10% metabolit sekunder tumbuhan adalah flavonoid, dengan struktur
kimia dan peran biologi yang sangat beragam Senyawa ini dibentuk dari jalur
shikimate dan fenilpropanoid, dengan beberapa alternatif biosintesis. Flavonoid
banyak terdapat dalam tumbuhan hijau (kecuali alga), khususnya tumbuhan
berpembuluh. Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk
daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nectar, bunga, buah buni dan biji.
Kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuh-tumbuhan
diubah menjadi flavonoid. Flavonoid merupakan turunan fenol yang memiliki
struktur dasar fenilbenzopiron (tokoferol), dicirikan oleh kerangka 15 karbon
(C6-C3-C6) yang terdiri dari satu cincin teroksigenasi dan dua cincin aromatis.
Substitusi gugus kimia pada flavonoid umumnya berupa hidroksilasi, metoksilasi,
metilasi dan glikosilasi.
Klasifikasi flavonoid sangat beragam, di antaranya ada yang
mengklasifikasikan flavonoid menjadi flavon, flavonon, isoflavon, flavanol,
flavanon, antosianin, dan kalkon. Lebih dari 6467 senyawa flavonoid telah
diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat. Kebanyakan flavonoid berbentuk
monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer (biflavonoid), trimer, tetramer, dan
polimer. Istilah flavonoid diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal
dari kata flavon, yaitu nama dari salah satu flavonoida yang terbesar jumlahnya
dalam tumbuhan.
Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar
tertentu. Flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu
posisi 2,4,6. cincin B flavonoid mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada
posisi para atau dua pada posisi para dan meta atau tiga pada posisi satu di
para dan dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya
sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin
heterosikllis dalam senyawa trisiklis. Beberapa senyawa flavonoida adalah
sebagai berikut :
Cincin A – COCH2CH2 – Cincin B —————————– Hidrokalkon
Cincin A – COCH2CHOH – Cincin B ————————– Flavanon, kalkon
Cincin A – COCH2CO – Cincin B —————————— Flavon
Cincin A – CH2COCO – Cincin B —————————— Antosianin
Cincin A – COCOCH2 – Cincin B ——————————- Auron
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung
pada tingkat oksidasi dari rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Flavon,
flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan di alam sehingga
sering disebut sebagai flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini
disebabkan oleh berbagai tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi
dari struktur tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoida dan neoflavonoida hanya
ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku leguminosae.
Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu.
Flavonoida mempunyai beberapa cirri struktur yaitu: cincin A dari struktur
flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu pada posisi
2,4 dan 6. Cincin B flavonoida mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi
para atau dua pada posisi para dan meta aau tiga pada posisi satu di para dan
dua di meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian
rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosiklik dalam
senyawa trisiklis. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari
15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantaipropana
(C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan
tiga jenis struktur senyawa flavonoida, yaitu:
1.
Flavonoida atau 1,3-diarilpropana
Beberapa senyawa flavonoida
yang ditemukan di alam adalah sebagai berikut
a) Antosianin
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar luas dalam
tumbuhan. Secara kimia antosianin merupakan turunan suatu struktur aromatik
tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan
penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilasi. Antosianin
tidak mantap dalam larutan netral atau basa. Karena itu antosianin harus
diekstraksi dari tumbuhan dengan pelarut yang mengandung asam asetat atau asam
hidroklorida (misalnya metanol yang mengandung HCl pekat 1%) dan larutannya
harus disimpan di tempat gelap serta sebaiknya didinginkan. Antosianidin ialah
aglikon antosianin yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam.
Antosianidin terdapat enam jenis secara umum, yaitu : sianidin, pelargonidin,
peonidin, petunidin, malvidin dan delfinidin.
Antosianidin adalah senyawa flavonoid secara struktur termasuk kelompok flavon.
Glikosida antosianidin dikenal sebagai antosianin. Nama ini berasal dari bahasa
Yunani antho-, bunga dan kyanos-, biru. Senyawa ini tergolong pigmen dan
pembentuk warna pada tanaman yang ditentukan oleh pH dari lingkungannya.
Senyawa paling umum adalah antosianidin, sianidin yang terjadi dalam sekitar 80
persen dari pigmen daun tumbuhan, 69 persen dari buah-buahan dan 50 persen dari
bunga. Kebanyakan warna bunga merah dan biru disebabkan antosianin. Bagian
bukan gula dari glukosida itu disebut suatu antosianidin dan merupakan suatu
tipe garam flavilium. Warna tertentu yang diberikan oleh suatu antosianin,
sebagian bergantung pada pH bunga. Warna biru bunga cornflower dan warna merah
bunga mawar disebabkan oleh antosianin yang sama, yakni sianin. Dalam sekuntum
mawar merah, sianin berada dalam bentuk fenol. Dalam cornflower biru, sianin
berada dalam bentuk anionnya, dengan hilangnya sebuah proton dari salah satu
gugus fenolnya. Dalam hal ini, sianin serupa dengan indikator asam-basa.
Istilah garam flavilium berasal dari nama untuk flavon, yang merupakan senyawa
tidak berwarna. Adisi gugus hidroksil menghasilkan flavonol, yang berwarna
kuning.
Dalam pengidentifikasian antosianin atau flavonoid yang kepolarannya rendah,
daun segar atau daun bunga jangan dikeringkan tetapi harus digerus dengan MeOH.
Ekstraksi hampir segera terjadi seperti terbukti dari warna larutan. Flavonoid
yang kepolarannya rendah dan yang kadang-kadang terdapat pada bagian luar
tumbuhan, paling baik diisolasi hanya dengan merendam bahan tumbuhan segar dalam
heksana atau eter selama beberapa menit.
Antosianin secara umum mempunyai stabilitas yang rendah. Pada
pemanasan yang tinggi, kestabilan dan ketahanan zat warna antosianin akan
berubah dan mengakibatkan kerusakan. Selain mempengaruhi warna antosianin, pH
juga mempengaruhi stabilitasnya, dimana dalam suasana asam akan berwarna merah
dan suasana basa berwarna biru. Antosianin lebih stabil dalam suasana asam
daripada dalam suasana alkalis ataupun netral. Zat warna ini juga tidak stabil
dengan adanya oksigen dan asam askorbat. Asam askorbat kadang melindungi
antosianin tetapi ketika antosianin menyerap oksigen, asam askorbat akan
menghalangi terjadinya oksidasi. Pada kasus lain, jika enzim menyerang asam
askorbat yang akan menghasilkan hydrogen peroksida yang mengoksidasi sehingga
antosianin mengalami perubahan warna. Warna pigmen antosianin merah, biru,
violet, dan biasanya dijumpai pada bunga, buah-buahan dan sayur-sayuran.
Dalam tanaman terdapat dalam bentuk glikosida yaitu membentuk
ester dengan monosakarida (glukosa, galaktosa, ramnosa dan kadang-kadang
pentosa). Sewaktu pemanasan dalam asam mineral pekat, antosianin pecah menjadi
antosianidin dan gula. Pada pH rendah (asam) pigmen ini berwarna merah dan pada
pH tinggi berubah menjadi violet dan kemudian menjadi biru. Pada umumnya,
zat-zat warna distabilkan dengan penambahan larutan buffer yang sesuai. Jika
zat warna tersebut memiliki pH sekitar 4 maka perlu ditambahkan larutan buffer
asetat, demikian pula zat warna yang memiliki pH yang berbeda maka harus dilakukan
penyesuaian larutan buffer. Warna merah bunga mawar dan biru pada bunga jagung
terdiri dari pigmen yang sama yaitu sianin. Perbedaannya adalah bila pada bunga
mawar pigmennya berupa garam asam sedangkan pada bunga jagung berupa garam
netral. Konsentrasi pigmen juga sangat berperan dalam menentukan warna.
Pada konsentrasi yang encer antosianin berwarna biru,
sebaliknya pada konsentrasi pekat berwarna merah dan konsentrasi biasa berwarna
ungu. Adanya tanin akan banyak mengubah warna antosianin. Dalam pengolahan
sayur-sayuran adanya antosianin dan keasaman larutan banyak menentukan warna
produk tersebut. Misalnya pada pemasakan bit atau kubis merah. Bila air
pemasaknya mempunyai pH 8 atau lebih (dengan penambahan soda) maka warna
menjadi kelabu violet tetapi bila ditambahkan cuka warna akan mejadi merah
terang kembali. Tetapi jarang makanan mempunyai pH yang sangat tinggi. Dengan
ion logam, antosianin membentuk senyawa kompleks yang berwarna abu-abu violet.
Karena itu pada pengalengan bahan yang mengandung antosianin, kalengnya perlu
mendapat lapisan khusus (lacquer).
b) Flavonol
Flavonol lazim sebagai konstituen tanaman yang tinggi, dan terdapat dalam
berbagai bentuk terhidroksilasi. Flavonol alami yang paling sederhana adalah galangin,
3,5,7 –tri-hidroksiflavon; sedangkan yang paling rumit, hibissetin adalah
3,5,7,8,3’,4’,5’ heptahidroksiflavon. Bentuk khusus hidroksilasi
(C6(A)-C3-C6(B), dalam mana C6 (A) adalah turunan phloroglusional, dan cincin B
adalah 4-atau 3,4-dihidroksi, diperoleh dalam 2 flavonol yang paling lazim
yaitu kaempferol dan quirsetin. Hidroksiflavonol, seperti halnya hidroksi
flavon, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai glikosida. Flavonol kebanyakan
terdapat sebagai 3-glikosida. Meskipun flavon, flavonol, dan flavanon pada
umumnya terdistribusi melalui tanaman tinggi tetapi tidak terdapat hubungan
khemotakson yang jelas. Genus Melicope mengandung melisimpleksin dan ternatin,
dan genus citrus mengandung nobiletin, tangeretin dan
3’,4’,5,6,7-pentametoksiflavon.
c) Flavonon
d) Khalkon
Polihidroksi khalkon terdapat dalam sejumlah tanaman, namun terdistribusinya di
alam tidak lazim. Alasan pokok bahwa khalkon cepat mengalami isomerasi menjadi
flavanon dalam satuan keseimbangan. Bila khalkon 2,6-dihidroksilasi, isomer
flavanon mngikat 5 gugus hidroksil, dan stabilisasi mempengaruhi ikatan
hydrogen 4-karbonil-5-hidroksil maka menyebabkan keseimbangan khalkon-flavon
condong ke arah flavanon. Hingga khalkon yang terdapat di alam memiliki gugus
2,4-hidroksil atau gugus 2-hidroksil-6-glikosilasi.
Beberapa khalkon misalnya merein, koreopsin, stillopsin, lanseolin yang
terdapat dalam tanaman, terutama sebagai pigmen daun bunga berwarna kuning,
kebanyakan terdapat dalam tanaman Heliantheaetribe, Coreopsidinae subtribe, dan
family Compositea.
e) Auron (Cincin
A –COCO CH2 – Cincin B)
Auron atau system cincin benzalkumaranon dinomori sebagai berikut :
1) Dihidrokhalkon.
Meskipun dihidrokhalkon jarang terdapat di alam, namun satu senyawa yang
penting yaitu phlorizin merupakan konstituen umum family Rosaceae juga terdapat
dalam jenis buah-buahan seperti apel dan pear. Phlorizin telah lama dikenal
dalam bidang farmasi, ia memiliki kesanggupan menghasilkan kondisi seperti
diabetes. Phlorizin merupakan β-D-glukosida phloretin. Phloretin mudah terurai
oleh alkali kuat menjadi phloroglusional dan asam p-hidroksihidrosinamat. Jika
glukosida phlorizin dipecah dengan alkali dengan cara yang sama, maka ternyata
sisa glukosa tidak dapat terlepas dan dihasilkan phloroglusinol β-O-glukosida.
f)
Flavon
Flavon mudah dipecah oleh alkali menghasilkan diasil metan atau tergantung pada
kondisi reaksi, asam benzoate yang diturunkan dari cincin A. flavon stabil
terhadap asam kuat dan eternya mudah didealkilasi dengan penambahan HI atau
HBr, atau dengan aluminium klorida dalam pelarut inert. Namun demikian, selama
demetilasi tata ulang sering teramati; oleh pengaruh asam kuat dapat
menyebabkan pembukaan cincin pada cara yang lain. Sebagai contoh demetilasi
5,8-dimetoksiflavon dengan HBr dalam asam asetat menghasilkan 5,6
dihidroksiflavon . Dalam keadaan khusus pembukaan lanjut dapat terjadi.
Demetilasi gugus 5-metoksi dalam polimetoksiflavon segera terjadi pada kondisi
yang cocok, sehingga 5-hidroksi-polimetoksiflavon mudah dibuat.
2.
Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana.
Isoflavon terdiri atas struktur dasar C6-C3-C6, secara alami disintesa oleh
tumbuh-tumbuhan dan senyawa asam amino aromatik fenilalanin atau tirosin.
Biosintesa tersebut berlangsung secara bertahap dan melalui sederetan senyawa
antara yaitu asam sinnamat, asam kumarat, calkon, flavon dan isoflavon.
Berdasarkan biosintesa tersebut maka isoflvon digolongkan sebagai senyawa
metabolit sekunder. Isoflavon termasuk dalam kelompok flavonoid
(1,2-diarilpropan) dan merupakan kelompok yang terbesar dalam kelompok
tersebut. Meskipun isoflavon merupakan salah satu metabolit sekunder,
tetapi ternyata pada mikroba seperti bakteri, algae, jamur dan lumut tidak
mengandung isoflavon, karena mikroba tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk
mensintesanya. Jenis senyawa isoflavon di alam sangat bevariasi. Diantaranya
telah berhasil diidentifikasi struktur kimianya dan diketahui fungsi
fisiologisnya, misalnya isoflavon, rotenoid dan kumestan, serta telah dapat
dimanfaatkan untuk obat-obatan.
3. Neoflavonoida
atau 1,1-diarilpropana
Neoflavonoid meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergoin.
Penggolongan Flavonoid Berdasarkan Jenis Ikatan
a. Flavonoid
O-Glikosida
Pada senyawa ini gugus hidroksil flavonoid terikat pada satu gula atau lebih
dengan ikatan hemiasetal yang tidak tahan asam, pengaruh glikosida ini nenyebabkan
flavonoid kurang reaktif dan lebih mudah larut dalam air. Gula yang paling umum
terlibat adalah glukosa disamping galaktosa, ramilosa, silosa, arabinosa,
fruktosa dan kadang-kadang glukoronat dan galakturonat. Disakarida juga dapat
terikat pada flavonoid misalnya soforosa, gentibiosa, rutinosa dan lain-lain.
b. Flavonoid
C-Glikosida
Gugus gula terikat langsung pada inti benzen dengan suatu ikatan karbon-karbon
yang tahan asam. Lazim di temukan gula terikat pada atom C nomor 6 dan 8 dalam
inti flavonoid. Jenis gula yang terlibat lebih sedikit dibandingkan dengan
O-glikosida. Gula paling umum adalah galaktosa, raminosa, silosa, arabinosa.
c. Flavonoid
Sulfat
Senyawa flavonoid yang mengandung satu ion sulfat atau lebih yang terikat pada
OH fenol atau gula, Secara teknis termasuk bisulfate karena terdapat sebagai
garam yaitu flavon O-SO3K. Banyak berupa glikosida bisulfat yang terikat pada
OH fenol yang mana saja yang masih bebas atau pada guIa. Umumnya hanya terdapat
pada Angiospermae yang mempunyai ekologi dengan habitat air.
d.Biflavonoid
Senyawa ini mula-mula ditemukan oleh Furukawa dari ekstrak daun
G. biloba berupa senyawa berwarna kuning yang dinamai ginkgetin (I-4’,
I-7-dimetoksi, II-4’, I-5, II-5, II-7-tetrahidroksi [I-3’, II-8] biflavon).
Biflavonoid (atau biflavonil, flavandiol) merupakan dimer flavonoid yang
dibentuk dari dua unit flavon atau dimer campuran antara flavon dengan flavanon
dan atau auron. Struktur dasar biflavonoid adalah 2,3-dihidroapigeninil-(I- 3′,II-3′)-apigenin.
Senyawa ini memiliki ikatan interflavanil C-C antara karbon C-3′ pada
masing-masing flavon. Beberapa biflavonoid dengan ikatan interflavanil C- O-C
juga ada. Biflavonoid terdapat pada buah, sayuran, dan bagian tumbuhan
lainnya.. Hingga kini jumlah biflavonoid yang diisolasi dan dikarakterisasi
dari alam terus bertambah, namun yang diketahui bioaktivitasnya masih terbatas.
Biflavonoid yang paling banyak diteliti adalah ginkgetin, isoginkgetin,
amentoflavon, morelloflavon, robustaflavon, hinokiflavon, dan ochnaflavon.
Senyawa- senyawa ini memiliki struktur dasar yang serupa yaitu
5,7,4’-trihidroksi flavanoid, tetapi berbeda pada sifat dan letak ikatan antar
flavanoid
Sistem cincin bisiklis dinamai cincin A dan C, sedangkan cincin unisiklis
dinamai cincin B. Kedua unit monomer biflavonoid ditandai dengan angka Romawi I
dan II. Posisi angka pada masing-masing monomer dimulai dari cincin yang
mengandung atom oksigen, posisi ke-9 dan ke-10 menunjukkan karbon pada titik
penyatuan Senyawa biflavonóid berperan sebagai antioksidan, anti-inflamasi,
anti kanker, anti alergi, antimikrobia, antifungi, antibakteri, antivirus,
pelindung terhadap iradiasi UV, vasorelaksan, penguat jantung, anti hipertensi,
anti pembekuan darah, dan mempengaruhi metabolisme enzim. Sebagian besar peran
di atas dapat dipenuhi oleh berbagai senyawa biflavonoid yang diekstraksi dari
berbagai spesies Selaginella.
Seperti yang telah dikemukakan di atas biflavonoid merupakan flavonoid dimer
yang biasanya terlibat adalah flavon dan flavonon yang secara biosintesis
mempunyai pola oksigenasi yang sederhana, 5, 7, 4' dan ikatan antar flavonoid
berupa C-C atau eter. Biflavonoid jarang ditemukan sebagai glikosida dan
penyebarannya terbatas umumnya pada paku-pakuan, Gimnospermae, Angiospermae.
Salah satu struktur flavonoid yang bernilai tinggi sebagai bahan obat adalah
biflavonoid. Di Asia Timur biflavonoid banyak dihasilkan dari daun Ginkgo
biloba L. dengan kandungan utama ginkgetin Di Afrika sub Sahara biflavonoid banyak
dihasilkan dari biji Garcinia cola Heckel dengan kandungan utama kolaviron. Di
Eropa biflavonoid banyak dihasilkan dari herba Hypericum perforatum L. dengan
kandungan utama amentoflavon. Selaginella Pal. Beauv. (Selaginellaceae Reichb.)
sangat berpotensi sebagai sumber biflavonoid. Tumbuhan ini dapat menghasilkan
berbagai jenis biflavonoid, tergantung spesiesnya, serta memiliki sebaran yang
bersifat kosmopolitan sehingga dapat dibudidayakan hampir di seluruh permukaan
bumi.
D. Sifat Flavonoid
1. Sifat Fisika dan Kimia Senyawa
Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol
yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa, dan karena merupakan senyawa
polihidroksi (gugus hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut
dalan pelarut polar seperti metanol, etanol, aseton, air, butanol, dimetil
sulfoksida, dimetil formamida. Disamping itu dengan adanya gugus glikosida yang
terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung menyebabkan flavonoid mudah larut
dalam air. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan
sebagai zat berwarna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Perkembangan
pengetahuan menunjukkan bahwa flavonoid termasuk salah satu kelompok senyawa
aromatik yang termasuk polifenol dan mengandung antioksidan.
Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai
sifat kimia senyawa fenol, yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam
basa. Karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih, atau suatu
gula, flavonoid merupakan senyawa polar dan seperti kata pepatah lama suatu
golongan akan melarutkan golongannya sendiri, maka umumnya flavonoid larut
cukupan dalam 11 pelarut polar seperti etanol (EtOH), metanol (MeOH), butanol
(BuOH), aseton, dimetilsulfoksida (DMSO), dimetilformamida (DMF), air, dan
lain-lain. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon,
dan flavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam
pelarut seperti eter dan kloroform (Markham, 1988).
Flavonoid
juga memiliki beberapa sifat seperti hepatoprotektif, antitrombotik,
antiinflamasi, dan antivirus (Stavric dan Matula, 1992). Sifat antiradikal
flavonoid terutama terhadap radikal hidroksil, anionsuperoksida, radikal
peroksil, dan alkoksil (Huguet, et al., 1990; Sichel,et al.,1991). Senyawa
flavonoid ini memiliki afinitas yang sangat kuat terhadap ion Fe (Fe diketahui dapat mengkatalisis beberapa
proses yang menyebabkan terbentuknya radikal bebas).
Aktivitas antiperoksidatif flavonoid ditunjukkan melalui potensinya sebagai
pengkelat Fe (Afanas‟av,et al., 1989 ; Morel,et al.,1993).
Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka dapat
diekstraksi dengan etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak
inidikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena
ituwarnanya berubah bila ditambah basa atau amonia, jadi mereka mudah
dideteksipada kromatogram atau dalam larutan (Harborne, 1987 : 70).
Sifat-sifat kimia dari senyawa fenol adalah sama, akan tetapi
dari segi biogenetic senyawa senyawa ini dapat dibedakan atas dua jenis utama,
yaitu:
1.
Senyawa fenol yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimat.
2.
Senyawa fenol yang berasal dari jalur asetat-malonat.
Ada juga senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur
biosintesa ini yaitu senyawa-senyawa flanonoida. Tidak ada benda yang begitu
menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan
pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin memberikan warna kuning atau jingga,
antodianin memberikan warna merah, ungu atau biru, yaitu semua warna yang
terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Secara biologis flavonoida memainkan
peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. Sejumlah
flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat
tertentu.
2. Sifat Kelarutan
Flavonoid
Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimiasenyawa fenol, yaitu bersifat agak asam sehingga
dapat larut dalam basa, tetapi bila dibiarkan dalam larutan basa
dan di samping itu terdapat oksigen, banyak yang akan terurai. Karena
mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih,atau suatu gula, flavonoid
merupakan senyawa polar, maka umumnya flavonoidcukup larut dalam pelarut polar
seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetil-sulfoksida, dimetilformamida,
air, dan lain-lain (Markham, 1988 : 15).Adanya gula yang terikat pada flavonoid
(bentuk umum yang ditemukan) cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut
dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan air merupakan
pelarut yang baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar
seperti isoflavon, flavanon, danflavon serta flavonol yang termetoksilasi
cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform (Markham,
1988 : 15). Kelarutan flavonoid antara lain :
1. Flavonoid polimetil
atau polimetoksi larut dalam heksan, petroleum eter (PE), kloroform, eter, etil
asetat, dan etanol. Contoh: sinersetin (nonpolar).
2. Aglikon flavonoid
polihidroksi tidak larut dalam heksan, PE dan kloroform; larut dalam eter, etil
asetat dan etanol; dan sedikit larut dalam air. Contoh: kuersetin (semipolar).
3. Glikosida flavonoid
tidak larut dalam heksan, PE, kloroform, eter; sedikit larut dalam etil asetat
dan etanol; serta sangat larut dalam air. Contoh: rutin.
3. Kestabilan
Flavonoid
Secara fisis, flavonoid bersifat stabil. Namun, secara kimiawi ada 2 jenis
flavonoid yang kurang stabil, yaitu:
1.
Flavonoid O-glikosida;
dimana glikon dan aglikon dihubungkan oleh ikatan eter (R-O-R). Flavonoid
jenis ini mudah terhidrolisis.
2.
Flavonoid C-glikosida;
dimana glikon dan aglikon dihubungkan oleh ikatan C-C. Flavonoid jenis ini sukar
terhidrolisis, tapi mudah berubah menjadi isomernya. Misalnya viteksin, dimana
gulanya mudah berpindah ke posisi 8. Perlu diketahui, kebanyakan gula terikat
pada posisi 5 dan 8, jarang terikat pada cincin B atau C karena kedua cincin
tersebut berasal dari jalur sintesis tersendiri, yaitu jalur sinamat.
E. Sumber Flavonid
Flavonoid tersebar luas pada tumbuhan tapi jarang terdapat pada
bakteri, jamur dan lumut. Dalam dunia tumbuhan, flavonoid tersebar luas dalam
suku Rutaceae, Papilionaceae (kacang-kacangan), Labiatae (Ortosiphon),
Compositae (contoh: Sonchus arvensis), Anacardiaceae,
Apiaceae/Umbeliferae (seledri, pegagan, wortel), dan Euphorbiaceae (contoh:
daun singkong). Pada tingkat organ, flavonoid tersebar pada seluruh bagian
tanaman seperti biji, bunga, daun, dan batang. Pada tingkat jaringan, flavonoid
banyak terdapat pada jaringan palisade. Pada tingkat seluler, flavonoid bisa
terdapat pada dinding sel, kloroplas, atau terlarut dalam sitoplasma. Pada
paku-pakuan, flavonoidnya berupa flavonoid polimetoksi sehingga hanya terdapat
pada dinding sel dan tidak terdapat pada sitoplasma karena sitoplasma
mengandung banyak air sehingga bersifat polar dan tidak dapat melarutkan
flavonoid polimetoksi.
Flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar,
kayu, kulit, tepungsari, nektar, bunga, buah dan biji. Hanya sedikit catatan
yang melaporkan flavonoid pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau
berang-berang, propilis (sekresi lebah), sayap kupu-kupu, yang mana dianggap bukan
hasil biosintesis melainkan dari tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut,
Senyawa antosianin sering dihubungkan dengan warna bunga tumbuhan. Sianidin
umumnya terdapat pada suku Gramineae. Senyawa biflavonoid banyak terdapat pada
subdivisi Gymnospernae sedang isoflavonoid pada suku leguminosae. Pada tumbuhan
yang mempunyai morfologi sederhana seperti lumut, paku, dan paku ekor kuda
mengandung senyawa flavonoid O-GIikosida, flavonol, flavonon, Khalkon,
dihidrokhalkon, C-Gl ikosida . Angiospermae mengandung senyawa flavonoid
kompleks yang lebih banyak.
Flavonoid adalah pigmen tumbuhan yang paling penting untuk warna bunga yang
memproduksi pigmentasi kuning atau merah/biru di kelopak yang dirancang untuk
menarik pollinator hewan. Flavonoid dikeluarkan oleh akar tanaman bantuan host
mereka ” Rhizobia” dalam tahap infeksi mereka hubungan simbiotik dengan
kacang-kacangan seperti kacang polong, kacang, Semanggi, dan kedelai. Rhizobia
yang tinggal di tanah dapat merasakan flavonoid dan ini memicu sekresi
mengangguk faktor, yang pada gilirannya diakui oleh tanaman dan dapat
menyebabkan akar rambut deformasi dan beberapa tanggapan selular seperti ion
fluks dan pembentukan nodul akar. Mereka juga melindungi tanaman dari serangan
dengan mikroba, jamur dan serangga.
Flavonoid (khusus flavnoids seperti catechin) adalah “kelompok yang paling umum
polyphenolic senyawa dalam makanan manusia dan ubiquitously ditemukan pada
tanaman”. Flavonols, bioflavonoids asli seperti quercetin, yang juga ditemukan
ubiquitously, tetapi dalam jumlah yang lebih rendah. Kedua set senyawa memiliki
bukti modulasi kesehatan efek pada hewan yang makan mereka.
Flavonoid (flavonols danflav nols) umumnya
dikenal dengan aktivitas antioksidan in vitro. Konsumen dan produsen makanan
menjadi tertarik pada flavonoid untuk sifat obat mungkin, terutama peran mereka
diduga dalam pencegahan kanker dan penyakit kardiovaskular. Meskipun bukti
fisiologis tidak belum didirikan, efek menguntungkan dari buah-buahan, sayuran,
dan teh atau bahkan merah anggur kadang-kadang telah dituduhkan flavonoid
senyawa daripada mikronutrien dikenal, seperti vitamin dan mineral.
Flavonoid adalah komposisi dalam makanan yang merupakan antioksidan penangkal
radikal bebas. Anda bisa menemukan flavonoid di dalam buah-buahan atau sayuran
tertentu. Fungsinya adalah melindungi dinding pembuluh darah, mengurangi risiko
alergi, menjaga kesehatan otak, hingga mencegah beberapa penyakit kanker.
Berikut ini makanan yang dapat kita konsumsi untuk mendapatkan
khasiat flavonoid.
1. Blueberry
Blueberry mengandung antioksidan tinggi yang melindungi dinding
pembuluh darah dan melindungi otak dari Alzheimer. Di dalam blueberry juga ada
senyawa bernama D-mannose yang membantu Anda mencegah infeksi saluran kencing.
Selain itu, blueberry ampuh mengurangi inflamasi pada perut dan sistem
pencernaan.
2. Teh hijau
Makanan lain yang mengandung flavonoid adalah teh hijau. Senyawa
utama di dalam teh hijau khususnya adalah polyphenol yang merupakan antioksidan
pencegah inflamasi dan kanker. Sudah banyak pula penelitian yang membahas
kandungan dalam teh hijau (kafein, theanine, dan catechin) yang membantu peningkatkan
sistem metabolisme tubuh.
3. Cokelat
Cokelat kaya akan antioksidan yang menyehatkan sistem
kardiovaskular. Misalnya menurunkan tekanan darah tinggi, melancarkan sistem
peredaran darah, dan membuat trombosit bekerja dengan lebih baik. Namun hanya cokelat
hitam yang memiliki khasiat flavonoid secara maksimal.
4. Bilberry
Salah satu herbal alami yang juga kaya akan flavonoid adalah
bilberry (bagian dari vitamin C kompleks). Penelitian pernah membuktikan bahwa
jenis flavonoid tersebut membantu memperkuat dinding pembuluh darah dan
mencegah kelainan mata. Selain bilberry, cherry dan blackberry juga termasuk
sumber flavonoid yang baik.
5. Sayuran
Terakhir, ada sayuran yang disebutkan sebagai salah satu makanan
yang kaya akan flavonoid. Misalnya brokoli, kale, bawang bombai, paprika, dan
bayam. Namun sayang jamur bukan termasuk sayuran yang mengandung flavonoid.
Meskipun ada banyak khasiat lain dari jamur itu sendiri. Kita juga bisa
menikmati sayuran dan buah mentah setiap hari untuk asupan flavonoid bagi tubuh.
Namun jika menderita masalah kesehatan tertentu dan alergi terhadap beberapa
makanan, Anda bisa mengonsumsi suplemen flavonoid.
F. Isolasi dan
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder
Prinsip dari pemisahan (isolasi) adalah adanya perbedaan sifat
fisik dan kimia dari senyawa yaitu kecendrungan dari molekul untuk melarut
dalam cairan (kelarutan), kecenderungan molekul untuk menguap (keatsirian),
kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk labus (adsorpsi,
penserapan) (Harborne, 1987).
Salah satu cara pemisahan adalah kromatografi cair vakum,
kromatografi cair vakum adalah kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja
pada kondisi vakum. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3, sumbat karet,
pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta wadah penampung fraksi.
Corong G-3 diisi adsorben sampai setinggi 2,5 cm, kemudian diketuk-ketuk dengan
batang pengaduk bersalut dilarutkan dalam pelarut organik yang cocok, kemudian
ke dalam larutan ekstrak tersebut ditambahkan adsorben dengan bobot sama dengan
bobot ekstrak. Campuran ini digenis sampai homogen, dikeringkan dan dimasukkan
ke dalam corong G-3 kemudian diratakan. Permukaan lapisan adsorben ditutup
dengan kertas saring. Elusi diawali dengan pelarut non polar dilarutkan dengan
kombinasi pelarut dengan polaritas meningkat. Jumlah pelarut yang digunakan
setiap kali elusi untuk bobot ekstrak sampai lima gram diperlukan 25 ml
pelarut, untuk 10-30 gram ekstrak diperlukan 50 ml pelarut. Dalam hal ini,
diameter corong dipilih sedemikian rupa sehingga lapisan ekstrak dipermukaan
kolom setipis mungkin dan rata. Masing-masing pelarut dituangkan ke permukaan
kolom kemudian dihisapkan pompa vakum. Masing-masing ekstrak ditampung dalam
wadah terpisah sehingga menghasilkan sejumlah fraksi (Soediro, dkk.,1986).
F. Isolasi dan
Identifikasi Flavonoid
1. Isolasi Flavonoid
Isolasi flavonoid umumnya dilakukan dengan metode ekstraksi,
yakni dengan cara maserasi atau sokletasi menggunakan pelarut yang
dapatmelarutkan flavonoid. Flavonoid pada umumnya larut dalam pelarutpolar,
kecuali flavonoid bebas seperti isoflavon, flavon, flavanon,dan flavonol
termetoksilasi lebih mudah larut dalam pelarut semipolar. Oleh karena itu pada
proses ekstraksinya, untuk tujuanskrining maupun isolasi, umumnya menggunakan
pelarut methanol atauetanol. Hal ini disebabkan karena pelarut ini bersifat
melarutkan senyawa–senyawa mulai dari yang kurang polar sampai dengan polar.
Ekstrak methanol atau etanol yang kental, selanjutnya dipisahkankandungan
senyawanya dengan tekhnik fraksinasi, yang biasanyaberdasarkan kenaikan
polaritas pelarut (Monache, 1996).
Senyawa flavonoid diisolasi dengan tekhnik maserasi,mempergunakan poelarut
methanol teknis. Ekstraksi methanol kental kemudian dilarutkan dalam air.
Ekstrak methanol–air kemudian difraksinasi dengan n-heksan dan etil asetat.
Masing–masing fraksiyang diperoleh diuapkan, kemudian diuji flavonoid. Untuk
mendeteksiadanya flavonoid dalam tiap fraksi, dilakukan dengan
melarutkansejumlah kecil ekstrak kental setiap fraksi kedalam etanol.Selanjutnya
ditambahkan pereaksi flavonoid seperti : natriumhidroksida, asam sulfat pekat,
bubuk magnesium–asam klorida pekat,atau natrium amalgam–asam klorida pekat. Uji
positif flavonoidditandai dengan berbagai perubahan warna yang khas setiap
jenisflavonoid (Geissman, 1962).
Cara lain yang dapat dipakai untuk pemisahan adalah ekstraksi
cair-cair, kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis dan kromatografi
kertas. Isolasi dan pemurnian dapat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis
atau kromatografi kertas preparatif dengan pengembangan yang dapat memisahkan
komponen paling baik (Harborne, 1987). Flavonoid (terutama
glikosida) mudah mengalami degradasi enzimatik ketika dikoleksi dalam bentuk
segar. Oleh karena itu disarankan koleksi yang dikeringkan atau
dibekukan. Ekstraksi menggunakan solven yang sesuai dengan tipe flavonoid
yg dikehendaki. Polaritas menjadi pertimbangan utama. Flavonoid kurang polar
(seperti isoflavones, flavanones, flavones termetilasi, dan flavonol)
terekstraksi dengan chloroform, dichloromethane, diethyl ether, atau ethyl
acetate, sedangkan flavonoid glycosides dan aglikon yang lebih polar
terekstraksi dengan alcohols atau campuran alcohol air. Glikosida meningkatkan
kelarutan ke air dan alkohol-air.Flavonoid dapat dideteksi dengan berbagai
pereaksi, antara lain:
a.
Sitroborat
b. AlCl3
c. NH3
Sebelum melakukan suatu isolasi senyawa, maka yang
dilakukan adalah ekstraksi terlebih dahulu.
a. Ekstraksi
Ekstraksi artinya mengambil atau menarik suatu senyawa
yang terdapat dalam suatu bahan dengan pelarut yang sesuai. Proses yang
terjadi dalam ekstraksi adalah terlarutnya senyawa
yang dapat larut dari sel melalui difusi, tergantung dari letak senyawa dalam
sel dan juga permeabilitas dinding sel dari bahan yang akan di ekstraksi.
Ekstraksi adalah suatu proses atau metode pemisahan dua atau
lebih komponendengan menambahkan suatu pelarut yang hanya dapat melarutkan
salahsatu komponennya saja. Dalam prosedur ekstraksi, larutan berair biasanya
dikocok dengan pelarutorganik yang tak dapat larut dalam sebuah corong pemisah.
Zat – zatyang dapt larut akan terdistribusi diantara lapisan air dan
lapisanorganik sesuai dengan (perbedaan) kelarutannya. Padaekstraksi senyawa –
senyawa organik dari larutan berair, selain airatau eter, biasanya digunakan
pula etil asetat, benzena, kloroform dan sebagainya. Ekstraksi lebih efisien
bila dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut yanglebih kecil dari pada
bila jumlah pelarutnya banyak tapi ekstraknyahanya sekali (Markham, 1988).
Metode ekstraksi terdiri atas dua jenis yakni ekstraksi panas dan ekstraksi
dingin. Ekstraksi panas menggunakan cara refluks dan destilasi uap sedangkan
ekstraksi secara dingin menggunakan cara maserasi,perkolasi dan soxhletasi.
1) Ekstraksi Secara
Panas
(a) Ekstraksi Secara Refluks.
Ekstraksi secara refluks adalah cara berkesinambungan dimana
cairan penyari secara kontinyu menyari zat aktif dalam sampel.
(b)Ekstraksi Secara Destilasi Uap
Ekstraksi secara destilasi uap adalah cara yang digunakan untuk menyaring
saampel yang mangandung minyak yang mudah menguap ataumengandung komponen kimia
yang mempunyai titik didih tinggi padatekanan udara normal. Destilasimerupakan metode ekstraksi yang memanfaatkan
perbedaan titik didih dari senyawa. Biasa digunakan untuk mengisolasi minyak
atsiri.
2) Ekstraksi Secara
Dingin
(a) Ekstraksi Secara Maserasi
Secara
harfiah berarti merendam. Ekstraksi
secara maserasi merupakan cara penyarian yang palingsederhana yang dilakukan
dengan cara merendam serbuk sampel dalamcairan penyari. Metode
ini merupakan metode yang paling sederhana. Tidak ada batas pelarut dalam
metode ini. Jika
menggunakan metode ini, simplisia dibasahkan terlebih dahulu, jika tidak di
khawatirkan akan ada simplisia yang tidak teraliri pelarut.Proses maserasi
sendiri dilakukan secara berulang dengan memisahkan cairan perendam dengan cara
penyaringan, dekantir atau di peras, selanjutnya ditambahkan lagi penyari segar
kedalam ampas hingga warna rendaman sama dengan warna pelarut.
(b) Ekstraksi Secara Perkolasi
Perkolasi
adalah suatu cara penarikan dengan memakai alat yang yang disebut perkolator,
dimana simplisia terendam dalam cairan penyari sehingga zat-zatnya terlarut dan
larutan tersebut akan menetes secara beraturan keluar sampai memenuhi
syarat-syarat yang telah ditetapkan. Ekstraksi secara perkolasi merupakan cara penyarian yang
dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk sampel yang telah
dibasahi.
(c) Ekstraksi Secara Soxhletasi
Merupakan metode ekstraksi yang
memanfaatkan pemanasan untuk destilasi pelurut sehingga terjadi sirkulasi
pelarut melalui serbuk simplisia. Metode ini efisiensi dalam pemanfaatan
pelarut tetapi berisiko pembentukan artefak akibat penggunaaan panas. Ekstraksi secara soxhletasi merupakan
cara penyarian sampel secaraberkesinambungan, cairan penyari dipanaskan
sehingga menguap, uapcairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul
cairan oleh pendingin balik dan turun menyari sampel di dalam klonson dan
selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa
siphon.
b. Kromatografi
Kromatografi adalah suatu nama yang
diberikan untuk teknik pemisahan tertentu. Pada dasarnya semua cara
kromatografi menggunakan dua fase yaitu fasa tetap(stationary) dan
fasa gerak (mobile), pemisahan tergantung pada gerakan relatif
dari dua fasa tersebut. Kromatografi
secara garis besar dapat dibedakan menjadi kromatografi kolom dankromatografi
planar. Kromatografi kolom terdiri atas kromatografi gas dan kromatografi cair,
sedangkan kromatografi planar terdiri ataskromatografi lapis tipis dan
kromatografi kertas (Anwar, 1994).
Cara-cara
kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat dari fasa tetap, yang
dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fasa tetap berupa zat padat maka
cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan, jika zat cair dikenal
sebagai kromatografi partisi. Karena fasa bergerak dapat berupa zat cair atau
gas maka semua ada empat macam sistem kromatografi yaitu kromatografi serapan
yang terdiri dari kromatografi lapis tipis dan kromatografi penukar ion,
kromatografi padat, kromatografi partisi dan kromatografi gas-cair serta
kromatografi kolom kapiler .
Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran
menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan
prinsip ini. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau
kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak
mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam
campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda
(Harborne, 1987).
Ketika pelarut mulai membasahi lempengan, pelarut pertama akan
melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada garis
dasar. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada lempengan kromatografi
sebagaimana halnya pergerakan pelarut. Kecepatan senyawa-senyawa dibawa
bergerak ke atas pada lempengan, tergantung pada kelarutan senyawa dalam
pelarut. Hal ini bergantung pada besar atraksi antara molekul-molekul senyawa
dengan pelarut (Harborne, 1987).
Kemampuan senyawa melekat pada fase diam, misalnya gel silika
tergantung pada besar atraksi antara senyawa dengan gel silika. Senyawa yang
dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat pada gel silika lebih kuat
dibanding senyawa lainnya karena senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa
yang lainnya. Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi
pada permukaan (Harborne, 1987). Penyerapan bersifat tidak permanen, terdapat
pergerakan yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada permukaan gel
silika dan yang kembali pada larutan dalam pelarut. Dengan jelas senyawa hanya
dapat bergerak ke atas pada lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut.
Ketika senyawa dijerap pada gel silika -untuk sementara waktu proses penjerapan
berhenti- dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa semakin kuat
senyawa dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan
(Harborne, 1987). Dalam hal ini, senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen
akan menjerap lebih kuat daripada yang tergantung hanya pada interaksi van der
Waals, dan karenanya bergerak lebih jauh pada lempengan.
Jika komponen-komponen dalam campuran dapat membentuk
ikatan-ikatan hydrogen, terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan
yang sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan yang sama pula. Ini
tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan gel silika. Atraksi antara
senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting dimana hal ini akan
mempengaruhi mudahnya proses senyawa ditarik pada larutan keluar dari permukaan
silika. Ini memungkinkan senyawa-senyawa tidak terpisahkan dengan baik ketika
membuat kromatogram. Dalam kasus itu, perubahan pelarut dapat membantu dengan
baik, termasuk memungkinkan perubahan pH pelarut. Ini merupakan tingkatan uji
coba, jika satu pelarut atau campuran pelarut tidak berkerja dengan baik, maka
dapat mencoba dengan pelarut lainnya (Harborne, 1987).
Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. Mereka
dapat diekstraksi dengan etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah
ekstrak ini dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol,
karena itu warnanya berubah bila ditambah basa atau amonia, jadi mereka mudah
dideteksipada kromatogram atau dalam larutan (Harborne, 1987 : 70).
1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis adalah suatu metode pemisahan yang
menggunakan plat atau lempeng kaca yang sudah dilapiskan adsorben yang
bertindak sebagaifasa diam. Fase bergerak ke atas sepanjang fase diam
danterbentuklah kromatogram. Metode ini sederhana, cepat dalam pemisahandan
sensitif (Khopkar, 1990). Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan
fitokimia. Lapisan yang memisahkan terdiri atas bahan berbutir-butir (fase
diam), ditempatkan pada penyangga berupa pelat gelas, logam, atau lapisan yang
cocok. Campuran yang akandipisah, berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau
pita (awal), kemudian pelat dimasukkan di dalam bejana tertutup rapat yang
berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak). Pemisahan terjadi selama
perambatan kapiler (pengembangan) dan selanjutnya senyawa yang tidak berwarna
harus ditampakkan (Stahl, 1985).
Pada prinsipnya KLT dilakukan berdasarkan pada penggunaan fasa
diam untuk menghasilkan pemisahan yang lebih baik. Fasa diam yang
biasadigunakan dalam KLT adalah serbuk silika gel, alumina, tanah diatomedan
selulosa (Harborne, 1987). Adapun carakerja dari KLT yakni larutan cuplikan
sekitar 1% diteteskan denganpipet mikro pada jarak 1-2 cm dari batas plat.
Setelah eluen ataupelarut dari noda cuplikan menguap, plat siap untuk
dikembangkandengan fasa gerak (eluen) yang sesuai hingga jarak eluen dari
batasplat mencapai 10-15 cm. Mengeringkan sisa eluen dalam plat dengandidiamkan
pada suhu kamar. Noda pada plat dapat diamati langsung dengan menggunakan lampu
UV atau dengan menggunakan pereaksi semprot penampak warna. Setelah noda
dikembangkan dan divisualisasikan,identitas noda dinyatakan dengan harga Rf
(retardation factor)(Anwar, 1994).
Tujuan mendapatkan identitas noda dengan harga Rf untuk mencari
pelarut untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh
darikromatografi kolom, menyigi arah atau perkembangan reaksi seperti
hidrolisis atau metilasi, identifikasi flavonoid secarako-kromatografi dan
isolasi flavonoid murni skala kecil (Markham,1988).
KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif. Kedua, dipakai untuk menjajaki sistem pelarut dan sistem penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi (Roy, et. all, 1991). Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini menurut Ibnu Gholib Gandjar dan Abdul Rohman (2007) adalah :
KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif. Kedua, dipakai untuk menjajaki sistem pelarut dan sistem penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja tinggi (Roy, et. all, 1991). Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini menurut Ibnu Gholib Gandjar dan Abdul Rohman (2007) adalah :
• Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan
analisis.
• Identifikasi
pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluorisensi atau
dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.
• Dapat dilakukan
elusi secara menaik (ascending), menurun (descending), atau dengan cara elusi 2
dimensi.
• Ketepatan penentuan
kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak
yang tidak bergerak.
Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis
tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam
atau plastik yang keras. Gel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase
diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang
mana dapat berpendarflour dalam sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut
atau campuran pelarut yang sesuai (Harborne, 1987).
Keuntungan kromatografi lapis tipis adalah dapat memisahkan
senyawa yang sangat berbeda seperti senyawa organik alam dan senyawa organik
sintesis, kompleks organik dan anorganik serta ion anorganik dalam waktu
singkat menggunakan alat yang tidak terlalu mahal. Metode ini kepekaannya cukup
tinggi dengan jumlah cuplikan beberapa mikrogram. Kelebihan metode ini jika
dibandingkan dengan kromatografi kertas adalah dapat digunakan pereaksi asam
sulfat pekat yang bersifat korosif, kelemahannya adalah harga RF yang tidak
tetap (Gritten, et. al., 1991).
a) KLT Preparatif
Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
merupakan proses isolasi yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya
partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan bergerak
mengikuti kepolaran eluen oleh karena daya serap adsorben terhadap komponen
kimia tidak sama, maka komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda sehingga
hal inilah yang menyebabkan pemisahan.
b) KLT 2 Dimensi
KLT 2 arah atau 2 dimensi bertujuan untuk
meningkatkan resolusi sampel ketika komponen-komponen solute mempunyai
karakteristik kimia yang hampir sama, karenanya nilai Rf juga hampir sama
sebagaimana dalam asam-asam amino. Selain itu, 2 sistem fase gerak yang sangat
berbeda dapat digunakan secara berurutan sehingga memungkinkan untuk melakukan
pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang berbeda .
Sampel ditotolkan pada lempeng lalu
dikembangkan dengan satu sistem fase gerak sehingga campuran terpisah menurut
jalur yang sejajar dengan salah satu sisi. Lempeng diangkat, dikeringkan dan
diputar 90° dan diletakkan dalam bejana kromatografi yang berisi fase gerak
kedua sehingga bercak yang terpisah pada pengembangan pertama terletak dibagian
bawah sepanjang lempeng, lalu dikromatografi lagi .
Deteksi dengan KLT dapat dilakukan dengan cara:
1.
Sinar tampak
2.
Sinar UV
3.
Pereaksi warna
2. Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom adalah suatu metode pemisahan dan pemurnian senyawa dalam
skalapreparative. Kromatografi kolom dapat dilakukan pada tekanan atmosferatau
dengan tekanan lebih besar dengan menggunakan bantuan tekananluar (Khopkar,
1990). Kromatografikolom prinsipnya mudah memilih ukuran, kemasan
(packing), dan isikolom sesuai jenis serta jumlah cuplikan yang akan
dipisahkan. Kolomyang digunakan dan kromatografi ini dapat berupa gelas,
plastik ataunilom. Ukuran kolom yang lazim digunakan mempunyai diameter 2 cm
danpanjang 45 cm. Untuk memilih kemasan (Packing) yang akan digunakandalam
kolom biasanya menggunakan selulosa, silika gel, alumina, arang(charcoal)
(Anwar, 1994).
Adapun cara kerja dari kromatografi kolom yakni langkah pertama
mengemas kolom(packing) dilakukan dengan hati-hati agar dihasilkan kolom kemas
yangserba sama. Selanjutnya kemasan kolom dijadikan bubur dalam gelaspiala
memakai pelarut yang sama, lalu dituangkan hati-hati ke dalamkolom. Kemasan
dibiarkan turun dan pelarut yang berlebihandikeluarkan melalui keran.
Selanjutnya langkah kedua menempatkanlarutan cuplikan pada (bagian atas) kolom
sehingga terbentuk pitayang siap untuk dielusi lebih lanjut. Cuplikan harus
dilarutkan dalampelarut yang volumenya sedikit. Pelarut yang dipakai harus
samadengan pelarut untuk mengelusi (Markham, 1988).
3. High Pressure Liquid Chromatography (HPLC)
High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi (KCKT) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia. KCKT termasuk
metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak
cairan dan fasa diam cairan atau padat. Banyak kelebihan metode ini jika
dibandingkan dengan metode lainnya (Done dkk, 1974; Snyder dan Kirkland, 1979;
Hamilton dan Sewell, 1982; Johnson dan Stevenson, 1978).
Informasi seperti kelarutan, gugus fungsi yang ada, besarnya
berat molekul (BM) dapat diperoleh dari pembuat informasi, pemberi sampel, atau
data spektroskopik seperti Nucleic Magnetic Resonance Spectrosphotometer (NMR),
Infrared spectrophotometer, ultra violet spectrumeter, dan mass Spectrophotometer.
Semua data-data ini dapat digunakan sebagai petunjuk bagi analis memilih tipe
HPLC yang tepat untuk digunakan (Johnson dan Stevenson, 1978)
Berdasarkan Hukum Dasar "like dissolves like" maka sangat mudah untuk memutuskan tipe KCKT yang akan dipilih. Seleksi tipe KCKT, dengan cepat kita dapat melihat bahwa Berat Molekul (BM) lebih besar dari 2000, maka kita dapat menggunakan kromatografi eksklusi. Fasa geraknya adalah air jika sampelnya larut dalam air; bila dapat larut dalam pelarut organik maka digunakan pelarut- pelarut organik sebagai rasa gerak. Fasa diamnya adalah Sephadex atau Bondagel Seri E untuk rasa gerak air dan Styragel atau MicroPak TSK gel untuk rasa gerak organik. Bila BM lebih rendah dari 2000, pertama yang harus ditentukan adalah apakah sampel dapat larut dalam air. Bila sampel dapat larut dalam air, maka kromatografi partisi rasa terbalik atau kromatografi penukar ion dapat digunakan. Bila kelarutan dipengaruhi oleh penambahan asam atau basa atau bila pH larutan bervariasi lebih dari 2 (dua) satuan pH dari pH 7, maka kromatografi penukar ion adalah pilihan utama. Bila kelambatan tidak dipengaruhi oleh asam dan basa dan larutan sampel adalah netral, maka kromatografi partisi rasa terbalik adalah pilihan terbaik. Tipe Eksklusi menggunakan ukuran poros yang kecil dan rasa air dapat juga dicoba.
Berdasarkan Hukum Dasar "like dissolves like" maka sangat mudah untuk memutuskan tipe KCKT yang akan dipilih. Seleksi tipe KCKT, dengan cepat kita dapat melihat bahwa Berat Molekul (BM) lebih besar dari 2000, maka kita dapat menggunakan kromatografi eksklusi. Fasa geraknya adalah air jika sampelnya larut dalam air; bila dapat larut dalam pelarut organik maka digunakan pelarut- pelarut organik sebagai rasa gerak. Fasa diamnya adalah Sephadex atau Bondagel Seri E untuk rasa gerak air dan Styragel atau MicroPak TSK gel untuk rasa gerak organik. Bila BM lebih rendah dari 2000, pertama yang harus ditentukan adalah apakah sampel dapat larut dalam air. Bila sampel dapat larut dalam air, maka kromatografi partisi rasa terbalik atau kromatografi penukar ion dapat digunakan. Bila kelarutan dipengaruhi oleh penambahan asam atau basa atau bila pH larutan bervariasi lebih dari 2 (dua) satuan pH dari pH 7, maka kromatografi penukar ion adalah pilihan utama. Bila kelambatan tidak dipengaruhi oleh asam dan basa dan larutan sampel adalah netral, maka kromatografi partisi rasa terbalik adalah pilihan terbaik. Tipe Eksklusi menggunakan ukuran poros yang kecil dan rasa air dapat juga dicoba.
c. Metode
Spektroskopi
Spektroskopi merupakan suatu metode untuk penentuan rumus struktur dari suatu
senyawa. Menurut Anwar (1994) bahwa spektroskopi bila dibandingkandengan metode
kimia konvensional (metode basah), spektroskopi memiliki beberapa keuntungan,
diantaranya : Jumlah zat yang diperlukan untuk analisis relatif kecil dan zat
tersebut sering kali dapat diperoleh kembali dan waktu pengerjaannya relatif cepat.
Dasar metode spektroskopi adalah molekul pada suatu energi level
tertentu,misalnya E1,disinari dengan sinar tertentu. Sinar ini akan melewati
molekul itudan seterusnya melewati suatu detektor. Selama molekul itu
tidakmenyerap sinar itu maka sinar yang terdeteksi akan sama
intensitasnyadengan sinar yang berasal dari sumber. Pada frekuensi
yangmemungkinkan terjadinya pemindahan energi level molekul misalnya dariE1
keE2,maka sinar akan diserap oleh frekuensi yang memungkinkan
terjadinyapemindahan energi level molekul misalnya dari E1ke E2,maka sinar akan
diserap oleh molekul dan tidak akan tampak dalamdetektor (Siregar, 1988).
1). Spektrofotometri
Ultra Lembayung (UV)
Spektrofotometri UV adalah suatu alat yang menggambarkan antara panjang gelombang
atau frekuensi lawan intensitas serapan (absorbansi). Spektrosfotometri UV ini
menghasilkan radiasi (cahaya) dengan panjang gelombang 200– 400 nm (Anwar,
1994). Pada umumnya spektrofotometri UV umumnyahanya menunjukkan jumlah peak
(puncak ) yang kecil jumlahnya.Puncak-puncak dilaporkan sebagai panjang
gelombang.
Spektrofotometri ini biasanya juga digunakan untuk mendeteksi konjugasi.
Molekul-molekul yang tidak mempunyai ikatan rangkap atau hanya mempunyai satu
ikatan tidak menyerap sinar 200-800 nm. Lainhalnya dengan senyawa-senyawa yang
mempunyai sistem konyugasi yang dapat menyerap sinar pada daerah ini, semakin
panjang sistem konyugasinya maka makin besar panjang gelombang absorpsi
(Siregar,1988).
Untuk menganalisis struktur dari senyawa-senyawa dari
metabolitsekunder seperti senyawa flavonoid, spektroskopi UV merupakan carayang
terbaik untuk mengkarakterisasi jenis-jenis senyawa flavonoiddan menentukan
pola oksigenasi. Kedudukan gugus hidroksil fenol bebasyang terdapat pada inti
flavonoid dapat ditentukan juga denganmenambahkan pereaksi geser (Markham,
1988).
Spektrum Flavonoid
Umum
Spektroskopi serapan lembayung dan serapan sinar tampak digunakan
untuk membantu mengidentifikasi jenis flavonoid dan menentukan pola
oksigenasi. Disamping itu, kedudukan gugus hidroksil fenol bebas pada inti
flavonoid dapat ditentukan dengan menambahkan pereaksi (pereaksi geser) ke
dalam larutancuplikan dan mengamati pergeseran puncak serapan yang terjadi.
Cara ini berguna untuk menentukan kedudukan gula atau metil yang terikat pada
salah satu gugushidroksil fenol (Markham, 1988 : 38).Spektrum flavonoid (gambar
2) biasanya ditentukan dalam larutan denganpelarut
metanol atau etanol. Spektrum khas terdiri atas dua maksimal pada
rentang240-285 nm (pita II) dan 300-550 nm (pita I). Kedudukan yang tepat dan
kekuatannisbi maksimal tersebut memberikan informasi yang berharga mengenai
sifatflavonoid dan pola oksigenasinya.
Spektrum khas jenis flavonoid utama dengan pola oksigenasi yang setara (5,7,4‟)
adalah kekuatan nisbi yang rendah pada pita Idalam dihidroflavon,
dihidroflavonol, dan isoflavon. Ciri nisbi ini tidak berubah,bahkan bila pola
oksigenasi berubah, sekalipun rentang maksimal serapan pada jenis
flavonoid (tabel 2) yang berlainan tumpang tindih sebagai keseragaman
polaoksigenasi. Keseragaman dalam rentang maksimal ini akan bergantung pada
polahidroksilasi dan pada derajat substitusi gugus hidroksil (Markham, 1988 :
39).
Cara Isolasi dan
Identifikasi Flavonoid Secara Umum
1. Isolasi
Dengan metanol
Terhadap bahan yang telah dihaluskan, ekstraksi dilakukan dalam dua tahap.
Pertama dengan metanol:air (9:1) dilanjutkan dengan metanol:air (1:1) lalu
dibiarkan 6-12 jam. Penyaringan dengan corong buchner, lalu kedua ekstrak
disatukan dan diuapkan hingga 1/3 volume mula-muIa, atau sampai semua metanol
menguap dengan ekstraksi menggunakan pelarut heksan atau kloroform (daIam
corong pisah) dapat dibebaskan dari senyawa yang kepolarannya rendah, seperti
lemak, terpen, klorofil, santifil dan lain-lain
2. Isolasi
Dengan Charaux Paris
Serbuk tanaman diekstraksi dengan metanol,lalu diuapkan sampai kental dan
ekstrak kental ditambah air panas dalam volume yang sama, Ekstrak air encer
lalu ditambah eter, lakukan ekstraksi kocok, pisahkan fase eter lalu uapkan
sampai kering yang kemungkinan didapat bentuk bebas. Fase air dari hasil
pemisahan ditambah lagi pelarut etil. asetat diuapkan sampai kering yang
kemungkinan didapat Flavonoid O Glikosida. Fase air ditambah lagi pelarut n - butanol,
setelah dilakukan ekstraksi, lakukan pemisahan dari kedua fase tersebut. Fase
n-butanol diuapkan maka akan didapatkan ekstrak n - butanol yang kering,
mengandung flavonoid dalam bentuk C-glikosida dan leukoantosianin. Dari ketiga
fase yang didapat itu langsung dilakukan pemisahan dari komponen yang ada dalam
setiap fasenya dengan mempergunakan kromatografi koLom. Metode ini sangat baik
dipakai dalam mengisolasi flavonoid dalam tanaman karena dapat dilakukan
pemisahan flavonoid berdasarkan sifat kepolarannya.
3. Isolasi
dengan beberapa pelarut.
Serbuk kering diekstraksi dengan kloroform dan etanol, kemudian ekstrak yang
diperoleh dipekatkan dibawah tekanan rendah. Ekstrak etanol pekat dilarutkan
dalam air lalu diekstraksi gojog dengan dietil eter dan n-butanol, sehingga
dengan demikian didapat tiga fraksi yaitu fraksi kloroform, butanol dan dietil
eter.
4. Identifikasi
Dengan Reaksi warna
a. Uji
WILSTATER
Uji ini untuk mengetahui senyawa yang mempunyai inti δ
benzopiron. Warna-warna yang dihasilkan dengan reaksi Wilstater adalah sebagai
berikut:
- Jingga Daerah untuk golongan flavon.
- Merah krimson untuk golongan fLavonol.
- Merah tua untuk golongan flavonon.
b. Uji BATE SMITH MATECALVE
Reaksi warna ini digunakan untuk menuniukkan adanya senyawa
leukoantosianin, reaksi positif jika terjadi warna merah yang intensif atau
warna ungu.
5. Identifikasi flavonoid
Sebagian besar senyawa flavonoid alam ditemukan dalam bentuk glikosidanya,
dimana unit flavonoid terikat pada suatu gula. Glikosida adalah kombinasi
antara gula dan suatu alcohol yang saling berikatan melalui ikatan glikosida.
Pada prinsipnya, ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari
alcohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula, sama seperti adisi alcohol
kepada aldehid yang dikatalis oleh asam menghasilkan suatu asetal.
Pada hidrolisis oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alcohol yang sebanding dan alcohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. Residu gula dari glikosida flavonoid alam adalah glukosa tersebut masinbg-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida. Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organic seperti eter, benzene, kloroform dan aseton.
Pada hidrolisis oleh asam, suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alcohol yang sebanding dan alcohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. Residu gula dari glikosida flavonoid alam adalah glukosa tersebut masinbg-masing disebut glukosida, ramnosida, galaktosida dan gentiobiosida. Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-, di- atau triglikosida dimana satu, dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organic seperti eter, benzene, kloroform dan aseton.
Flavonoid merupakan metabolit sekunder dalam tumbuhan yang mempunyai variasi
struktur yang beraneka ragam, namun saling berkaitan karena alur biosintesis
yang sama. Jalur biosintesis flavonoid dimulai dari pertemuan alur asetat
malonat dan alur sikimat membentuk khalkon, dari bentuk khalkon ini diturunkan
menjadi bentuk lanjut menjadi berbagai bentuk lewat alur antar ubah posisi,
dehidrogenasi, denetilasi dan lain-lain. Kenudian daripada itu menghasilkan
bentuk sekunder dihidrokalkon, flavon, auron, isoflavon (penurunan selanjutnya
membentuk peterokarpon dan rotenoid) dan dehidroflavonol (penurunan selanjutnya
antosianidin, flavonol, epikatekin ) .
Dari bentuk-bentuk sekunder tersebut akan terjadi modifikasi lebih lanjut pada
berbagai tahap dan menghasilkan penambahan / pengurangan hidroksilasi,
metilenasi, ortodihidroksil, metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoid,
dimerisasi, pembentukan bisulfat, dan yang terpenting glikolisasi gugus
hidroksil
G. Manfaat dan
Kegunaan Flavonoid
Flavonoid merupakan sejenis senyawa fenol terbesar yang ada, senyawa ini
terdiri dari lebih dari 15 atom karbon yang sebagian besar bisa ditemukan dalam
kandungan tumbuhan.Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P dan citrin, dan
merupakan pigmen yang diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai warna pada bunga
yang dihasilkan.Bagian tanaman yang bertugas untuk memproduksi flavonoid adalah
bagian akar yang dibantu oleh rhizobia, bakteri tanah yang bertugas untuk
menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah.
Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian
vegetatif maupun dalam bunga. Sebagai pigmen bunga flavonoid berperan jelas
dalam menarik burung
dan serangga penyerbuk bunga. Beberapa flavonoid tak berwarna, tetapi flavonoid
yang menyerap sinar UV barangkali penting juga dalam mengarahkan serangga.
Beberapa kemungkinan fungsi flavonoid untuk tumbuhan yang mengandungnya
adalah pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus,
dan kerja terhadap serangga (Robinson, 1995).
dan serangga penyerbuk bunga. Beberapa flavonoid tak berwarna, tetapi flavonoid
yang menyerap sinar UV barangkali penting juga dalam mengarahkan serangga.
Beberapa kemungkinan fungsi flavonoid untuk tumbuhan yang mengandungnya
adalah pengaturan tumbuh, pengaturan fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus,
dan kerja terhadap serangga (Robinson, 1995).
Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan
kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. Flavin
memberikan warna kuning atau jingga, antodianin memberikan warna merah, ungu
atau biru, yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau.
Secara biologis flavonoida memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan
tanaman oleh serangga. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat
bersifat menolak sejenis ulat tertentu.
Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di
alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai
zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan
pigmen tumbuhan dengan warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan
pada buah, sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta
produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti minyak zaitun, teh, cokelat,
anggur merah, dan obat herbal.
Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa, bau, serta kualitas
nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid
tertentu. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia
menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Bagi
tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri terhadap hama,
penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji,
pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur
transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan. Senyawa
flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama
Gyorgy (1936). Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan ekstrak vitamin C (asam
askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati penderita pendarahan kapiler
subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. Mc.Clure (1986) menemukan pula oleh
bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta Citrus limon
juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas
senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi „alat
komunikasi‟ (molecular messenger} dalam proses interaksi antar sel, yang
selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau mahluk hidup
yang bersangkutan, baik bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat positif
(menstimulasi).
1. Flavonoid sebagai
Antioksidan
Berbagai sayuran dan buah-buahan yang dapat dimakan mengandung sejumlah flavonoid. Konsentrasi yang lebih
tinggi berada pada daun dan kulit kupasannya dibandingkan dengan jaringan yang
lebih dalam. Stavric dan Matula(1992) melaporkan bahwa di negara-negara Barat,
konsumsi komponen flavonoid bervariasi dari 50 mg sampai 1 g per hari dengan 2
jenis flavonoid terbesar berupa quersetin dan kaempferol. Sebagai antioksidan,
flavonoid dapat menghambat penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang
produksi nitrit oksida yang dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh darah, dan
juga menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
Flavonoid juga memiliki beberapa sifat seperti hepatoprotektif, antitrombotik,
antiinflamasi, dan antivirus (Stavric dan Matula, 1992). Sifat antiradikal
flavonoid terutama terhadap radikal hidroksil, anionsuperoksida, radikal
peroksil, dan alkoksil (Huguet, et al., 1990; Sichel,et al.,1991). Senyawa
flavonoid ini memiliki afinitas yang sangat kuat terhadap ion Fe (Fe diketahui dapat mengkatalisis beberapa
proses yang menyebabkan terbentuknya radikal bebas).
Aktivitas antiperoksidatif flavonoid ditunjukkan melalui potensinya sebagai
pengkelat Fe (Afanas‟av,et al., 1989 ; Morel,et al.,1993).
Manfaat utama flavonoid dalam tubuh
manusia adalah sebagai antioksidan yang bisa menghambat proses penuaan dan
mencegah berkembangnya sel kanker. Salah satu jenis tanaman yang
dipercaya dan terbukti memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi adalah
tanaman cokelat. (nn).
Flavonoid dikatakan antioksidan karena dapat menangkap radikal bebas dengan
membebaskan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya. Aksi radikal memberikan efek
timbulnya berbagai penyakit yang berbahaya bagi tubuh. Tubuh manusia tidak
mempunyai sistem pertahanan antioksidatif yang lebih sehingga apabila terkena
radikal bebas yang tinggi dan berlebih, tubuh tidak dapat menanggulanginya.
Saat itulah tubuh manusia membutuhkan antioksidan dari luar (eksogen) yang
dapat dilakukan dengan asupan senyawa yang memiliki kandungan antioksidan yang
tinggi melalui suplemen, makanan, dan minuman yang dikonsumsi.
Namun, globalisasi yang merupakan zaman sintetik membuat manusia khawatir
terhadap antioksidan buatan yang pada umumnya memberikan efek samping yang tidak
ringan. Globalisasi membuat masyarakat menjadi semakin pandai dan kritis
termasuk dalam memilih produk makanan atau minuman yang akan dikonsumsi.
Berkembangnya berbagai jenis penyakit terutama yang diakibatkan oleh pola
konsumsi makanan yang salah, mendorong masyarakat kembali ke alam. Dengan kata
lain, masyarakat kini mulai beralih pada upaya alami dengan mengonsumsi makanan
atau minuman yang mengandung antioksidan alami yang tidak menimbulkan efek
samping atau mungkin ada efek samping tetapi dengan efek yang relatif ringan.
Jadi, antioksidan alami menjadi alternatif yang lebih diminati oleh masyarakat
daripada antioksidan sintetik.
Sebagai bahan alami, buah-buahan, sayuran, dan teh merupakan serat alami yang
memiliki kandungan senyawa flavonoid dalam kadar yang tinggi. Seperti yang kita
ketahui bahwa buah, sayuran, dan teh banyak mengandung vitamin dan mineral yang
memang sangat berguna bagi kesehatan tubuh kita, misalnya kerena adanya
kandungan vitamin E dan vitamin C yang memang telah dikenal sebagai antioksidan
sehingga banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Sejauh yang masyarakat umum
ketahui, kandungan pada buah, sayuran, dan teh adalah kandungan vitamin dan
mineralnya saja. Padahal di dalamnya juga terdapat kandungan flavonoid yang
juga merupakan antioksidan. Bahkan flavonoid merupakan antioksidan yang jauh
lebih baik dari pada antioksidan lainnya, seperti pada vitamin E dan vitamin C.
Hal ini membuktikan bahwa flavonoid sebagai antioksidan memiliki potensi yang
lebih tinggi sebagai obat antikanker dari pada vitamin dan mineral.
Kandungan flavonoid ini memberi harapan sebagai pencegah antikanker. Penyakit
yang sangat ditakuti saat ini adalah kanker. Kalau dahulu orang takut penyakit
pes, kolera, cacar, TBC, tipus, dan jenis-jenis penyakit lain yang sekarang
sudah tidak ditakuti lagi, sekarang orang selalu takut akan bahaya kanker yang
sewaktu-waktu dapat timbul (Braam, 1980). Saat ini, cara pengobatan kanker yang
biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya adalah pembedahan, radioterapi,
dan kemoterapi. Tujuan dari cara pengobatan tersebut adalah membunuh sel-sel
kanker. Akan tetapi, perlu kita ketahui bahwa tidak sedikit dari cara-cara
tersebut yang justru menimbulkan efek samping. Efek samping yang ditimbulkan
tersebut akan menjadi beban baru bagi para penderita kanker. Oleh sebab itu,
masyarakat mulai beralih pada pengobatan yang tidak menimbulkan efek samping
atau mungkin ada efek samping tetapi dengan efek yang ringan
2. Penyakit Kanker
Kanker merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan
sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal dan tidak terkendali. Drs. Wildan
Yatim dalam bukunya Biologi (1996:100) menilai kanker sebagai berikut: ”Kanker
mengandung sel-sel yang membelah terus secara cepat dan tak terkontrol. Sel-selnya
memilki sifat seperti sel muda yang aktif bermitosis. Seperti sel-sel embrio,
sel-sel kanker berinti besar, nukleus pun besar, dan dalam plasma terdapat
banyak butiran dan membran tipis. Sel kanker bisa merusak sel-sel yang lain dan
dapat pindah ke jaringan dan daerah lain”.
Sudah jelas bahwa sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak
terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan
sekitarnya (invasive) dan terus menyebar. Penyebarannya bisa melalui jaringan
ikat, darah, dan yang lebih berbahaya lagi bahwa sel kanker dapat menyerang
organ-organ penting dan saraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel
membelah diri apabila ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak.
Berbeda dengan sel kanker yang akan membelah terus meskipun tubuh tidak
memerlukannya sehingga akan terjadi penumpukan sel baru. Sel baru ini lah yang
disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan
normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya.
Kanker dapat tumbuh di berbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh
mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker tumbuh pada bagian permukaan tubuh,
maka akan dengan mudah diketahui oleh penderita. Akan tetapi, bila kanker
tumbuh di dalam tubuh, maka penyakit yang dianggap misterius tersebut akan
sulit diketahui sebab kadang-kadang tidak menunjukkan gejala apa pun, bahkan
kanker tertentu baru akan dapat diketahui setelah kanker tersebut sudah ada
pada stadium akhir atau lanjut, misalnya leukimia (kanker darah). Kalau pun
timbul gejala, biasanya gejala tersebut terasa pada saat stadium lanjut
sehingga terkadang sudah terlambat untuk diobati. Ini lah alasan utama mengapa
kanker menjadi penyakit yang harus sangat diwaspadai oleh seluruh masyarakat.
Selain lingkungan, makanan yang kita makan juga dapat menjadi faktor penyebab
terjadinya kanker, terutama kanker pada saluran pencernaan sebab makanan yang
dikonsumsi seseorang dapat mempengaruhi pengaktifan sel kanker pada saluran
pencernaan. Contoh jenis makanan yang dapat menyebabkan kanker pada saluran
pencernaan adalah makanan yang diasap dan diasamkan. Makanan tersebut dapat
meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung. Contoh lainnya adalah minuman
yang mengandung alkohol yang menyebabkan kanker kerongkongan. Bahkan zat
pewarna makanan pun dapat menjadi penyebab timbulnya kanker pada saluran
pencernaan. Terdapat pula penyebab kanker pada saluran pencernaan, yaitu logam
berat seperti mercury yang biasanya sering terdapat pada makanan laut yang
tercemar, seperti kerang, ikan, dan sebagainya. Selain itu, perlu diperhatikan
oleh masyarakat adalah bahwa berbagai makanan manis mengandung tepung yang
diproses secara berlebihan juga merupakan faktor penyebab aktifnya sel kanker
dalam tubuh.
a. Senyawa Flovonoid sebagai Antikanker
a. Senyawa Flovonoid sebagai Antikanker
Senyawa bioaktif flavonoid yang merupakan ekstrak metanol ini dikatakan sebagai
antikanker karena dapat menghambat tumbuhnya sel-sel kanker itu sendiri.
Sebagai antioksidan, senyawa flavonoid dapat mencegah reaksi bergabungnya
molekul karsinogen dengan DNA sel sehingga mencegah kerusakan DNA sel. Di sini
lah komponen bioaktif flavonoid dapat mencegah terjadinya proses awal
pembentukan sel kanker. Bahkan flavonoid dapat merangsang proses perbaikan DNA
sel yang telah termutasi sehingga sel menjadi normal kembali. Selain itu, dapat
mencegah pembentukan pembuluh darah buatan sel kanker (proses angiogenesis)
sehingga sel-sel kanker tidak dapat tumbuh menjadi besar karena saluran untuk
pertumbuhannya terhambat.
Makanan yang mengandung flavonoid, seperti stroberi hijau, kubis, apel,
kacang-kacangan, dan bawang juga mengurangi risiko terjagkitnya penyakit kanker
paru-paru. Hal ini menandakan bahwa untuk mencegah terjadinya kanker sangat lah
mudah asalkan kita sendiri ada kemauan dalam menjaga kesehatan. Pepatah “lebih
baik mencegah dari pada mengobati” pun menjadi amat tepat bila bicara mengenai
kanker. Hal ini mengingat sulitnya pengobatan dan minimnya kesembuhan apabila
seseorang sudah terjangkit kanker. Namun, manusia harus selektif dalam
mengonsumsi makanan, minuman, sayuran, dan buah-buahan yang dianggap alami dan
tidak memiliki efek samping. Hal ini tampaknya harus menjadi pertimbangan yang
lebih jauh dari manusia mengingat zaman sekarang yang semakin maju dan
mengakibatkan manusia selalu menginginkan yang instan, mudah, dan murah,
misalnya penggunaan pestisida dalam perawatan buah dan sayuran untuk
menghindari gangguan hama yang dapat membuat hasil buah atau sayuran menjadi
rusak bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Secara otomatis, pestisida yang
disemprotkan pada buah atau sayuran tersebut akan menempel dan akan termakan
oleh manusia yang mengonsumsinya. Padahal, jika kita lihat dari kandungannya,
pestisida merupakan bahan kimia yang bersifat karsinogen yang dapat
mengaktifkan sel-sel kanker pada tubuh manusia.
Kandaswami dan Middleton (2004) mengatakan bahwa flavonoid dapat menghalangi
reaksi oksidasi kolesterol jahat (LDL) yang menyebabkan darah mengental yang
dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah pada
tubuh akan menyebabkan aliran darah tidak lancar dan jika dibiarkan dalam waktu
yang terlalu lama, kemungkinan besar akan mengumpul bahkan menggumpal pada
daerah tertentu. Penggumpalan darah ini dapat mengakibatkan sel-sel tersebut
menjadi sel kanker yang dapat aktif apabila didukung oleh asupan bahan
karsinogenik atau faktor luar lainnya yang dikonsumsi manusia.
Flavonoid juga menghambat invasi tumor sehingga tumor tidak membesar dan tidak
menjadi ganas yang menyebabkan kanker. Tumor yang tertanam dalam tubuh manusia
apabila dibiarkan terlalu lama akan menjadi sel kanker yang ganas dan akan
menggerogoti tubuh. Mengingat bahaya penyakit kanker bagi tubuh, manusia harus
mengambil sikap dan antisipasi terhadap penyakit yang menyebabkan kematian
tersebut, misalnya dengan mengonsumsi makanan yang mengandung flavonoid yang
tinggi. Karena kandungannya yang banyak terdapat pada buah, sayur, dan teh,
dapat dikatakan bahwa tidak sulit untuk melindungi diri dari penyakit
berbahaya, seperti kanker. Perlindungan tersebut dikatakan cukup mudah sebab
buah, sayur-sayuran, dan teh sangat mudah didapat.
Berbagai potensi senyawa isoflavon untuk keperluan kesehatan
antara lain:
a. Anti-inflamasi
Mekanisme anti-inflamasi terjadi melalui efek penghambatan jalur
metabolisme asam arachidonat, pembentukan prostaglandin, pelepasan histamin,
atau aktivitas „radical scavenging’ suatu molekul. Melalui mekanisme tersebut,
sel lebih terlindung dari pengaruh negatif, sehingga dapat meningkatkan
viabilitas sel. Senyawa flavonoid yang dapat berfungsi sebagai anti-inflamasi
adalah toksifolin, biazilin, haematoksilin, gosipin, prosianidin, nepritin, dan
lain-lain.
b.
Anti-tumor/Anti-kanker
Senyawa isoflavon yang berpotensi sebagai antitumor/antikanker adalah genistein
yang merupakan isoflavon aglikon (bebas). Genistein merupakan salah satu
komponen yang banyak terdapat pada kedelai dan tempe. Penghambatan sel kanker
oleh genistein, melalui mekanisme sebagai berikut :
(1) penghambatan
pembelahan/proliferasi sel (baik sel normal, sel yang terinduksi oleh faktor
pertumbuhan sitokinin, maupun sel kanker payudara yang terinduksi dengan
nonil-fenol atau bi-fenol A) yang diakibatkan oleh penghambatan pembentukan
membran sel, khususnya penghambatan pembentukan protein yang mengandung
tirosin;
(2) penghambatan aktivitas enzim DNA isomerase
II;
(3) penghambatan regulasi siklus sel;
(4) sifat antioksidan
dan anti-angiogenik yang disebabkan oleh sifat reaktif terhadap senyawa radikal
bebas;
(5) sifat
mutagenik pada gen endoglin (gen transforman faktor pertumbuhan betha atau
TGFβ). Mekanisme tersebut dapat berlangsung apabila konsentrasi genestein lebih
besar dari 5μM.
c. Anti-virus
Mekanisme penghambatan senyawa flavonoida pada virus diduga
terjadi melalui penghambatan sintesa asam nukleat (DNA atau RNA) dan pada
translasi virion atau pembelahan dari poliprotein. Percobaan secara klinis
menunjukkan bahwa senyawa flavonoida tersebut berpotensi untuk penyembuhan pada
penyakit demam yang disebabkan oleh rhinovirus, yaitu dengan cara pemberian
intravena dan juga terhadap penyakit hepatitis B. Berbagai percobaan lain untuk
pengobatan penyakit liver masih terus berlangsung.
d. Anti-allergi
Aktivitas anti-allergi bekerja melalui mekanisme sebagai berikut
:
(1) penghambatan
pembebasan histamin dari sel-sel mast‟, yaitu sel yang mengandung granula,
histamin, serotonin, dan heparin;
(2) penghambatan pada
enzim oxidative nukleosid-3‟,5‟ siklik monofast fosfodiesterase,
fosfatase, alkalin, dan penyerapan Ca;
(3) berinteraksi
dengan pembentukan fosfoprotein. Senyawa-senyawa flavonoid lainnya yang
digunakan sebagai anti-allergi antara lain terbukronil, proksikromil, dan
senyawa kromon.
e. Penyakit
kardiovaskuler
Berbagai pengaruh positif isoflavon terhadap sistem peredaran
darah dan penyakit jantung banyak ditunjukkan oleh para peneliti pada aspek
berlainan. Khususnya isoflavon pada tempe yang aktif sebagai antioksidan, yaitu
6,7,4- trihidroksi isoflavon (Faktor-II), terbukti berpotensi sebagai anti
kotriksi pembuluh darah (konsentrasi 5μg/ml) dan juga berpotensi menghambat,
pembentukan LDL (low density lipoprotein). Dengan demikian isoflavon dapat
mengurangi terjadinya arterosclerosis pada pembuluh darah. Pengaruh isoflavon
terhadap penurunan tekanan darah dan resiko CVD (cardio vascular deseases)
banyak dihubungkan dengan sifat hipolipidemik dan hipokholesteremik senyawa
isoflavon.
Berbagai bahan alam yang secara tradisional digunakan untuk
penyakit kardio-vaskular, kebanyakan secara ilmiah telah dilaporkan memiliki
khasiat sebagai antioksidan, namun pemanfaatan tumbuhan obat tersebut lebih
banyak dilatar-belakangi oleh pengalaman empiris; masih sedikit sekali
pembuktian secara ilmiah berdasarkan mekanisme kerjanya. Penelitian ini
bertujuan mempelajari aktivitas antioksidan berbagai ekstrak bahan alam (daun
salam, daun jati belanda, daun jambu biji, air cuka tahu dan jamur kuping
hitam) pada berbagai tingkat konsentrasi sekaligus membandingkan potensi kelima
ekstrak bahan alam, dan untuk mengkaji khasiat berbagai ekstrak bahan alam yang
digunakan secara tradisional untuk pengobatan penyakit kardiovaskular melalui
telaah modulasi mekanisme apoptosis dalam sistem nonmamalia dengan menggunakan
sell ragi (Saccharomyces cerevisiae). Daun salam, daun jambu biji, daun Jati
Belanda diekstraksi dengan metode refluks. Serbuk jamur kuping (60 mesh)
diekstraksi dengan cara maserasi 24 jam menggunakan etanol 30% dengan
perbandingan 1:6 (g:mL). Ekstrak cuka tahu dipersiapkan menggunakan etil
asetat. Aktivitas antioksidan lima ekstrak bahan ditapis secara in vitro
menggunakan sistem oksidasi asam linoleat dan mengukur produk oksidasinya
secara spektrofotometri dengan metode asam tiobarbiturat (TBA assay)
menggunakan tetrametoksipropana (TMP). Diperoleh bahwa semua ekstrak berpotensi
antioksidan. Ekstrak etanol daun salam 1.000 ppm secara konsisten menunjukkan
hambatan oksidasi hampir sama baiknya dengan aktivitas antioksi dan vitamin E
pada konsentrasi 200 ppm; sedangkan pada 200 ppm juga mampu menghambat oksidasi
asam linoleat sama baiknya dengan vitamin E konsentrasi yang sama. Ekstrak whey
tahu memiliki aktivitas antioksidan paling rendah ( 82,02%), walau
masih lebih besar dari vitamin E.
f. Estrogen dan
Osteoporosis
Pada wanita menjelang menopause, produksi estrogen menurun
sehingga menimbulkan berbagai gangguan. Estrogen tidak saja berfungsi dalam
sistem reproduksi, tetapi juga berfungsi untuk tulang, jantung, dan mungkin
juga otak. Dalam melakukan kerjanya, estrogen membutuhkan reseptor estrogen
(ERs) yang dapat “on/off” di bawah kendali gen pada kromosom yang disebut _-ER.
Beberapa target organ seperti pertumbuhan dada, tulang, dan empedu responsif terhadap
_-ER tersebut. Isoflavon, khususnya genistein, dapat terikat dengan _-ER.
Walaupun ikatannya lemah, tetapi dengan β-ER mempunyai ikatan sama dengan
estrogen. Senyawa isoflavon terbukti mempunyai efek hormonal, khususnya efek
estrogenik. Efek estrogenik ini terkait dengan struktur isoflavon yang dapat
ditransformasikan menjadi equol. Dimana equol mempunyai struktur fenolik yang
mirip dengan hormon estrogen. Mengingat hormon estrogen berpengaruh pula
terhadap metabolisme tulang, terutama proses kalsifikasi, maka adanya isoflavon
yang bersifat estrogenik dapat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses
kalsifikasi. Dengan kata lain, isoflavon dapat melindungi proses osteoporosis
pada tulang sehingga tulang tetap padat dan masif.
g. Anti kolesterol
Efek isoflavon terhadap penurunan kolesterol terbukti tidak saja
pada hewan percobaan seperti tikus dan kelinci, tetapi juga manusia. Pada
penelitian dengan menggunakan tepung kedelai sebagai perlakuan, menunjukkan
bahwa tidak saja kolesterol yang menurun, tetapi juga trigliserida VLDL (very
low density lipoprotein) dan LDL (low density lipoprotein). Di sisi lain,
tepung kedelai dapat meningkatkan HDL (high density lipoprotein) (Amirthaveni
dan Vijayalakshmi, 2000). Mekanisme lain penurunan kolesterol oleh isoflavon
dijelaskan melalui pengaruh peningkatan katabolisme sel lemak untuk pembentukan
energi yang berakibat pada penurunan kandungan kolesterol.
Permasalahan:
1.
Senyawa
yang paling mudah ditemukan adalah flavonoid karena senyawa ini adalah kelompok
senyawa fenol terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan
zat warna merah, ungu, biru, dan sebagai zat berwarna kuning yang ditemukan
dalam tumbuh-tumbuhan. Apakah flavonoid ini hanya ditemukan pada tumbuhan, dan
apakah falvonoid ini tidak ditemukan pada hewan dan manusia?
2.
Mengapa
Senyawa flavonoid yang merupakan salah satu golongan dari polifenol sampai saat
ini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih digunakan secara terbatas? Sedangkan
senyawa ini dikenal memiliki aktivitas
antibakteri, anti melanogenesis, antioksidan dan antimutagen.
Malam saudari indah
BalasHapusSenyawa flavonoid ini umumnya ditemukan pada tumbuhan biasanya pada bunga karena berfungsi dlm penyerbukan bunga. Biasanya berwarna merah, kuning dan jingga
Flavonoid merupakan kelompok senyawa fenolik terbesar yang ditemukan di alam dan berasal dari tumbuhan tingkat tinggi. Flavonoid mempunyai kerangka dasar dengan 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada satu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan (C6-C3-C6) dengan struktur 1,3-diarilpropan. Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis, bergantung pada tingkat oksidasi rantai propan dari sistem 1,3-diarilpropan [Achmad, 1985]. Agar mudah, cincin diberi tanda A, B, dan C,atom karbon dinomori menurut sistem penomoran yang menggunakan angka biasa untuk cincin A dan C, serta angka “beraksen” untuk cincin B.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang ke dua
BalasHapusFlavonoid merupakan kelompok senyawa fenolik terbesar yang ditemukan di alam dan berasal dari tumbuhan tingkat tinggi. Flavonoid mempunyai kerangka dasar dengan 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada satu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan (C6-C3-C6) dengan struktur 1,3-diarilpropan. Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis, bergantung pada tingkat oksidasi rantai propan dari sistem 1,3-diarilpropan [Achmad, 1985]. Agar mudah, cincin diberi tanda A, B, dan C,atom karbon dinomori menurut sistem penomoran yang menggunakan angka biasa untuk cincin A dan C, serta angka “beraksen” untuk cincin B.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yg pertama:
BalasHapusHanya sedikit catatan yang melaporkan flavonoid pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang, propilis (sekresi lebah), sayap kupu-kupu, yang mana dianggap bukan hasil biosintesis melainkan dari tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut, Penyebaran flavonoid terbatas pada golongan tumbuhan dengan tingkat biovita atau yang lebih tinggi, golongan tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang asal-usulnya lebih baru dibanding golongan tumbuhan yang tidak mengandung flavonoid (500 - 3000 juta tahun), segi penting dari penyebaran flavonoid ini adalah adanya kecenderungan kuat bahwa tumbuhan yang secara takson berkaitan akan menghasilkan jenis flavonoid yang serupa.
Saya akan menjawab permasahan 1. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies, genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan, senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri terhadap hama, penyakit, herbivori, kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji, pelindung terhadap radiasi sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan.
BalasHapusDari nomor 2.
BalasHapusFlavonoid mempunyai kerangka dasar dengan 15 atom karbon, dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada satu rantai propan (C3) sehingga membentuk suatu susunan (C6-C3-C6) dengan struktur 1,3-diarilpropan.